Terima Kasih Anda Telah Mengunjungi Blog Ini

Blog ini bukan untuk tujuan komersial, bila ada gadget tambahan yang bersifat komersial itu bukan kehendak pemilik blog !

Sabtu, 02 Januari 2010

Cermin dan Cahaya

(Sebuah renungan atas meninggalnya KH Abdurrahman Wahid)
Oleh Budi Wibowo

Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendakinya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal." (Al Baqarah [2]:269)

Bila kita berkata cermin, maka yang terlintas adalah kita berdiri di depannya untuk menatap wajah kita, kemudian jika berkata cahaya maka yang terlintas adalah sinar matahari yang menerangi bumi, dengan cahaya itu dapat dilihat benda-benda yang berada di sekitar kita.



Cahaya dan Cermin dalam Perpektif Ilmu Pengetahuan

Ketika matahari menyinari bumi maka kita dapat melihat benda-benda yang terdapat di sekitar kita. Benda itu memiliki warna yang bermacam-macam. Dalam teori fisika matahari memiliki warna yang banyak. Secara kasat mata warna tersebut dapat diuraikan dengan urutan merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Dengan uraian merah menuju jingga, jingga menuju kuning, kuning menuju hijau, hijau menuju biru, biru menuju nila, nila menuju ungu. Pendek kata cahaya itu jumlahnya banyak sekali. Setiap benda jika terkena cahaya matahari akan memantulkan warna tertentu dan menyerap warna-warna yang lainnya.

Selanjutnya kita bertanya bagaimana dengan cermin?
Ternyata pada jaman Rasul SAW sudah ditemukan cermin, yakni sebuah alat yang dapat menangkap bayang benda yang berada di depannya. Daya pantul cermin itu bergantung pada kebeningan dari cermin tersebut. Demikian pemahaman mengenai cahaya dan cermin dalam perspektip ilmu pengetahuan.


Cermin dan Cahaya dalam Perspektip Agama

وَتِلْكَ الأَمْثَالُ نَضْرَبُهَا لِلنّاَسِ وَمَا يَعْقِلُهَاإِلاّ العَالِمُوْنَ

"Dan perumpamaan ini kami buatkan untuk manusia dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang beriman"(Al Ankabut: 43)

Kata 'nur' yang berarti cahaya secara berdiri sendiri dalam Al Qur'an ditemukan sebanyak 33 kali. Allah membuat perumpamaan kata nur yang berarti hidayah atau petunjuk Allah juga bermakna sebagai dampak dan hasilnya (Quraish Shihab)

قَدْ جَآ ءَكُمْ مِنَ اللهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِيْنٌ

"Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (hidayah) dari Allah dan kitab yang menerangkannya. " (Al Maidah [5] : 15)

Hati(qolbu) adalah yang menerima hidayah, maka dengan kata lain qolbu adalah penerima cahaya. Para ulama membuat perumpamaan bahwa qolbu itu bagaikan cermin yakni dia mampu menangkap cahaya kemudian memantulkannya atau dengan kata lain qolbu memiliki kemampuan menangkap hidayah dan mengekpresikannya. Demikian perpekstip cermin dan cahaya menurut kacamata agama.


Kolaborasi antara Perspektip Agama dan Pengetahuan dalam Memaknai Cermin dan Cahaya

1. Makna Pemantulan

Sebagaimana matahari sebagai sumber cahaya, Allah pun sepertihalnya matahari Ia sebagai sumber hidayah. Bila matahari setiap saat memancarkan cahayanya, maka Allahpun setiap saat memancarkan hidayah-Nya kepada manusia di muka bumi ini. Kemampuan manusia menangkap hidayah dan mengekpresikannya bergantung pada kebeningan qolbu sebagaimana cermin menangkap cahaya dan memantulkannya bergantung pada kebeningan cermin tersebut.
Allah juga menjelaskan bahwa Al Qur'an itu cahaya, perhatikan ayat berikut:

مَا كُنْتَ تَدْرِى مَاالكِتَابُ وَلاَ الإمَانُ وَ لَكِنْ جَعَلنَا هُ نُوْرَاً نَهْدِى بِهِ مَنْ نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِيَا

"Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an dan tidak mengetahui apakah iman itu tetapi Kami menjadikan AlQur'an itu cahaya. Kami tunjuki siapa yang Kami kehendaki di antara hamba2 Kami." (Asy Syura [42] : 52)

Bagi saudaraku yang belum memahami bahasa Arab mungkin membaca ayat tersebut bertanya "Kata mana yang menunjukkan makna Al Qur'an?" Mari kita perhatikan kata ja'alnaahu, potongan ayat ini sebenarnya terdiri dari tiga kata 'ja'ala, 'nahnu' dan 'huwa'. Huwa adalah kata ganti orang ke tiga yang berarti 'dia', pada potongan ayat tersebut ditunjukkan dengan kata 'hu', Kata inilah yang memberi makna 'Al Qur'an'.

Kembali pada makna pantulan, misal bila Anda membaca sebuah ayat dari Al qur'an, dalam ayat tersebut Allah memerintahkan "Dirikanlan sholat', kemudian Anda melakukan sholat, artinya Anda dapat merefleksikan sesuai dengan apa yang diperintahkan. Maka bila diibaratkan ayat adalah cahaya dan qolbu adalah cermin, berarti cermin mampu memantulkan cahaya. Maka dari itu ketika seorang bertanya tentang akhlak Rasulullah kepada Siti Aisyah r.a., ia menjawab ' Akhlak beliau adalah Al Qur'an'.

وَمَا أرْسَلْنَاكَ إلاّ رَحْمَةً لِلعَالَمِيْنَ

"Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam (Al Ambiya [21]:107)

Ayat ini menunjukkan hidayah Allah SWT dalam kaitannya dengan akhlakul karimah dan Rasulullah SAW sebagai ikonnya. Oleh karena itu sepak terjang beliau menyedot perhatian seluruh makhluk di jagat raya ini, enak dipandang, menarik dan selalu dirindukan. Bangsa Arab menggambarkan beliau ibarat Bulan Purnama. Inilah sebenarnya yang dikehendaki Allah SWT sebagai acuan terhadap hambanya di relung jagat ini.

Demikian sepatutnya seorang muslim, seharusnya meneladani Rasulnya, yakni harus berusaha semaksimal mungkin dalam merefleksikan apa yang diajarkan agamanya, sehingga ia berpenampilan sebagai sosok yang enak dipandang, menarik dan selalu dirindukan oleh masyarakat dunia, kalau tidak oleh bangsa dan negaranya, kalau tidak oleh masyarakat di sekitarnya, kalau tidak bagi keluarganya.


2. Makna Kedekatan

Ketika hati itu bening dia akan memantulkan cahaya hidayah lebih sempurna. Hasil pantulan itu akan tampak pada sikap mental pemiliknya. Rasul SAW bersabda;

المُؤْمِنُ مِرْأةُ المُؤْمِنِ

"Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain." (HR Ath-Thabrani dari Anas r.a.).

Cermin dalam perepektif pengetahuan adalah alat yang kita gunakan untuk mengaca diri atau melihat wajah kita. Benda ini selalu kita dapatkan di setiap rumah hamba Allah. Berapa besar ukurannya bergantung pada kebutuhan menurut selara masing-masing. Memaknai sabda Rasulullah SAW tentang cermin yang telah ia ungkapkan tersebut, ada beberapa hikmah yang dapat kita petik;


a. Bermanfaat untuk Semua Orang

Cermin bisa kita dapatkan pada setiap rumah yang menjadi tempat tinggal manusia, baik di hotel mewah maupun di gubug reot kolong jembatan Ia memiliki fungsi yang sangat penting yakni untuk berhias atau memperbaiki penampilan. Begitu juga hendaknya seorang mukmin ia dibutuhkan oleh semua kalangan dan dapat memberi manfaat bagi orang lain tanpa membedakan status.


b. Menasihati dengan Bijak

Secara sadar atau tidak bila kita menghadap ke cermin segera merapikan diri dari ujung rambut hingga mata kaki. Sebenarnya yang menyuruh berbuat demikian itu adalah cermin dan kita tidak tersinggung bahkan malah kesengsem (Asyik) berhias supaya berpenampilan menarik bagi orang yang melihat kita. Demikian juga hendaknya bagi seorang mukmin, sepatutnya ia meneladani sang cermin dalam memberikan nasehat dan petunjuk terhadap orang lain. Rasul bersabda;

خَيْرُكُمْ مَنْ ذَكَرَكُمْ بِا اللهِ رُؤْتُهُ وَزَادَ فِى عِلْمِكُمْ مَنْطِقُهُ وَرَغَّبَكمْ فِى الاَخِرَةِ عَمَلُهُ

"Orang yang terpilih di antara kalian adalah sesorang yang dapat mengingatkan kalian kepada Allah bila melihatnya, dan ucapanya menambah ilmu agama kalian, serta perbuatannya dapat memberi semangat kepada kalian untuk beramal demi akhirat kalian." (HR Al Hakim)


c. Menjaga Rahasia

Cermin tidak pernah membuka rahasia siapapun yang pernah berdiri di depannya. Ia tidak pernah mengatakan kepada orang yang sedang bercermin di hadapannya tentang aib orang yang pernah datang kepadanya. Begitu juga hendaknya seorang mukmin. Rasulullah bersabda;

"Barang siapa menutupi aib seseorang, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat." (HR Muslim)


d. Kejujuran

Cermin tidak pernah berbohong kepada orang yang berdiri di depannya, ia melukiskan sesuai keadaan orang yang berada di depannya. Tidak pernah cermin memperlihatkan bayangan yang sebaliknya, misal bila orang yang berdiri di depannya acak-acakan kemudian bayangan yang terlihat padanya terlihat rapi karena takut dipecah.
Meneladani sifat cermin demikian sepatutnya seorang mukmin jujur kepada siapapun dan di manapun, kecuali bearada di medan perang atau mendamaikan dua pihak yang berseteru.


e. Membutuhkan Orang Lain untuk Menjaga dan Membersikan

Betapaun cermin memiliki berbagai sifat kebaikan, namun ia juga memiliki kekurangan, ia akan pecah kalau tidak di jaga dan dilindungi, ia akan kotor berdebu kalau tidak dibersihkan secara rutin oleh pemiliknya. Jadi sehebat apapun seorang mukmin masih mebutuhkan nasehat dan sumbangsih pemikiran dari orang lain. Oleh karena itu seorang mukmin sepatutnya hidup dan berkumpul bersama orang-orang sholeh, sehingga ia terpelihara dari godaan yang menjerumuskan.


Memelihara Kebeningan hati

Rasul SAW bersabda;
"Sesungguhnya seorang mukmin apabila melakukan sebuah dosa, maka pada hatinya akan tumbuh (menempel) titik hitam. Jika ia bertobat, berhenti dari dosa dan istigfar, hatinya akan bersih dan licin kembali. Tapi jika ia berbuat maksiat lagi (mengulang perbuatan yang sama) titik hitam itu bertambah, demikian seterusnya sehingga titik hitam itu bertumpuk memnuhi seluruh hatinya." (HR Ahmad dan Tarmizi dari Abu Hurairah).

Di antara perkara yang tidak banyak diketahui manusia adalah perkara yang samar. Pada hal Rasul menganjurkan bahwa yang samar (abu-abu) itu harus kita hindarkan.

"Halal itu jelas. Haram itu jelas dan di antara keduanya terdapat berbagai persoalan yang samar (syubhat) yang tidak dapat diketahui oleh sebagian besar manusia. Maka barang siapa menjaga dirinya dari syubhat dia benar-benar telah membebaskan (menjaga) agama dan kehormatannya. Dan barang siapa terjatuh ke dalam yang samar, maka dia terlah terjatuh dalam keharaman. (HR Syaikhan).

Maka dari itu Allah SWT berfirman;

كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانوُا يَكْسِبُونَ

"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka." (Al Mutofifin [83]: 14).

Bagaimana mungkin seorang mukmin dapat merefleksikan cahaya hidayah bila ia selalu memakan rezeki yang samar ?

Ketajaman merefleksikan hidayah bergantung pula dari derajat kebeningan hati seseorang, sebagaminan cermin semakin bening semakin sempurna memantulkan cahaya. Setiap hari kita bergaul dengan orang kita sayangi, Ibu, Bapa, anak, suami atau isteri. Kita tahu dan paham betul dengan ucapan dan tindakan mereka, karena telah terjadinya ikatan batin yang kuat di antara kita. Kita dapat menerjemahkan apa maksud dari ekpresi tindakan mereka meskipun tanpa ucapan sekalipun, apalagi diiringi dengan untaian kata. Demikian juga halnya bila kita sering berdialog dengan sang Pencipta dan Raul-Nya, tentu kita akan mampu mengejawantahkan (dapat menguraikan) makna yang Ia maksudkan. Bagaiman caranya ? Yakni selalu membaca dalam artian mempelajari Kitabnya dan Hadis Rasul-Nya, serta berkumpul bersama para alim ulama kemudian merenungkan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita. Oleh karena itu meskipun bukan merupakan syarat mutlak, memahami bahasa Al Qur'an akan lebih memudahkan kita untuk mengambil hikmah yang ada yang terkandung dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya.

Demikian memaknai perpektif cermin dan cahaya dalam kaitannya dengan meninggalnya seorang KH Abdurrahman Wahid yang ditokohkan masyarakat . Kebebasan iterpretasi terletak pada diri Anda. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi diri saya dan pembaca sekalian. Amiin.

وَصلّ الله على سيّدنا محمّد و على آله وصحبه وسلّة


Bdl, 2 Jan 2009.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar