Terima Kasih Anda Telah Mengunjungi Blog Ini

Blog ini bukan untuk tujuan komersial, bila ada gadget tambahan yang bersifat komersial itu bukan kehendak pemilik blog !

Rabu, 09 September 2015

Pikir itu Pelita Hati

by
Budi Wibowo

بسم الله الرّحمان الرّ حيم


Seiring dengan berjalannya waktu manusia dituntut agar terus meningkatkan ketaqwaannya (kita dapat merenungkan kembali mengapa perintah puasa selalu diulang setiap tahunnya),  pernyataan ini berkaitan dengan tuntutan keharusan semakin tingginya keyakinan (iman) dengan berjalannya waktu.   Dengan kata lain Allah SWT menghendaki hamba-Nya agar tetap memelihara semangat  pencarian cahaya pada posisi puncak pencariannya
***
Pikir itu pelita hati, artinya pikiran itu yang menerangi hati, ketika seseorang dikatakan buta hati atau gelap hati, dapat bermakna bahwa  pikiran tidak mampu memancarkan cahaya untuk menerangi hati.  Di sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kata kunci dari fenomena pelita yang dimaksud  adalah kata “cahaya”.

Cahaya dalam Al Qur’an berarti petunjuk, seluruh isi Al Qur’an adalah petunjuk, oleh karena itu Al Qur’an bisa kita katakan adalah cahaya.  Allah SWt mengajari kita demikian;

مَا كُنْتَ تَدْرِى مَاالكِتَابُ وَلاَ الإمَانُ وَ لَكِنْ جَعَلنَا هُ نُوْرَاً نَهْدِى بِهِ مَنْ نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِيَا

"Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak mengetahui apakah iman itu tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya.   Kami tunjuki siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami." (Asy Syura [42] : 52)

Bagi orang yang mau berpikir akan mengatakan bahwa seluruh jagat raya ini menunjukkan kebesaran Allah SWT, maka dapat kita katakan bahwa setiap fenomena jagat raya ini sebenarnya adalah cahaya.  Dengan pikiran, cahaya  ditangkap,  kemudian diteruskan ke dalam hati sehingga timbulah sebuah keyakinan, semakin besar cahaya itu menerangi hati semakin kuat pula keyakinan yang diperoleh hamba tersebut.  Dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya alam ini begitu kuat dan besar memancarkan cahaya  Ilahi.
    
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah pikiran itu selalu digunakan untuk memikirkan kebesaran Allah SWT  atau tidak?  Oleh karena itu membaca Al Qur’an yang benar, bukan sekedar membaca atau membunyikan saja tetapi membaca Al Qur’an harus diikuti dengan  mengerahkan seluruh potensi pikir untuk menemukan cahaya di dalamnya.  Secara tersirat  Allah SWT telah mengajari kita hal demikian, seperti tertulis dalam firman-Nya berikut; 

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْءَانِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya telah kami buatlah bagi manusia dalam Al Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka pelajari” (QS Az-Zumar [39 ]:27).

Ayat tersebut menyatakan bahwa Allah SWT mengajari kita agar mengerahkan seluruh potensi pikir itu untuk menggali Firman-firman-Nya. 
Sebagai  contoh mari kita perhatikan Firman Allah SWT sbb:

يس  وَالْقُرْءَانِ الْحَكِيمِ إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

Yaa Sin, Demi Alqur’an yang penuh hikmah.  Sesungguhnya, engkau (Muhammad) adalah salah satu dari rasul-rasul (QS Yasin [36]: 1-3) .

Kata   الْحَكِيمِ dalam kamus Al Munawir  berarti arif atau bijaksana, sedangkan   dalam tafsir Jalalain disebutkan dengan makna المحكم بعجيب النظم  (dikerjakan dengan teliti, dengan rangkaian (kata-kata) yang mengagumkan)1.   Para ulama mengganti makna kata tersebut  dengan kata hikmah, yang mengandung makna kebijaksanaan, ilmu, filsafat, peribahasa atau pepatah.  Maka ayat 1 dan 2 surat Yasin  dapat kita ucapkan;
Wahai Manusia, demi  Al-Qur’an  yang  penuh hikmah. (  disusun penuh  ketelitian  yang di dalamnya banyak mengandung  kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, filsafat, peribahasa atau pepatah.)

Jika Allah telah bersumpah bahwa “Demi Al Qur’an yang penuh Hikmah”, maka barang siapa  selalu mempelajari Al Qur’an (bila Allah SWT  menghendaki ) niscaya dia akan mendapatkan ilmu, pelajaran atau petunjuk, sehingga dalam setiap gerak dan langkahnya menggambarkan isi Al Qur’an.   Dikatakan dia adalah ahli hikmah.

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal." (Al Baqarah [2]:269)

Artinya yang dapat mengambi pelajaran dari Al Qur’an itu hanyalah orang-orang yang mau mengerahkan potensi  pikirnya.  Jika pikiran itu  selalu digunakan untuk memikirkan kebesaran Allah SWT melalui tanda-tanda kekuasaannya maka hati akan menjadi terang, sehingga akan jelas baginya mana yang hak dan mana yang batil.

Seiring dengan berjalannya waktu manusia dituntut agar terus meningkatkan ketaqwaannya (kita dapat merenungkan kembali mengapa perintah puasa selalu diulang setiap tahunnya),  pernyataan ini berkaitan dengan tuntutan keharusan semakin tingginya keyakinan (iman) dengan berjalannya waktu.   Dengan kata lain Allah SWT menghendaki hamba-Nya agar tetap memelihara semangat  pencarian cahaya pada posisi puncak pencariannya.

Demikian renungan ini, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Aaamiin.  

و صلّ الله على سيّدنا محمّد وعلى آله وصحبه وسلّم
WaAllahu ‘alamu bishawabi
PUSTAKA
Al Qur’an Karim,
 Muhamad, Jalaluddin dan Abdurahman, Jalaluddin.    ____.  Tafsir Al Qur’anu
                    Adzim.   Jilid  2.  Maktab Imam.  Surabaya. Hal.  122


2 komentar: