Terima Kasih Anda Telah Mengunjungi Blog Ini

Blog ini bukan untuk tujuan komersial, bila ada gadget tambahan yang bersifat komersial itu bukan kehendak pemilik blog !

Senin, 17 Maret 2014

Nilai Keikhlasan

by
Budi Wibowo

بسم الله الرّحمان الرّحي

Hakekat kemiskinan atau kekayaan itu sebenarnya kadar spiritualitas  yang melekat pada seseorang.  Maka akan kita dapati secara spiritualitas orang kaya yang miskin dan orang miskin yang kaya. 

**

Sikap dermawan sebenarnya bukan bagi orang yang memiliki harta banyak saja tetapi sikap ini sebenarnya merupakan  ciri bagi orang beriman, sebab Allah SWT selalu melekatkan kata iman dengan amal sholeh,  di dalam amal sholeh itulah terkandung sikap dermawan.   Oleh karena itu semakin tinggi keimanan seseorang seharusnya semakin dermawan pula.  Dalam kaidah ilmu statistik dikatakan sikap dermawan itu linier dengan keimanan.   Abu Bakar Ashiddiq ketika ditanya dalam hal bersedekah menjawab  bahwa semua hartanya telah ia sedekahkan yang tertinggal hanya Allah SWT dan Rasulnya.  Ungkapan sahabat Rasul tersebut menunjukkan betapa tingginya keimanan yang ia miliki.

Meski nilai keikhlasan seseorang itu tidak dapat diukur dengan besaran  menurut ukuran manusia, namun kedermawan dapat mengindikasi keiklasan seseorang.   Bila seseorang memiliki penghasilan 10 juta  dibanding  dengan seseorang yang memiliki penghasilan 1 juta dengan tanggungan  sama, sama-sama menyumbang pembangunan masjid,  yang berpenghasilan 10 juta menyumbang 750 ribu, sedang yang berpenghasilan  1 juta menyumbang  150 ribu.    Secara nominal terjadi perbedaan nilai sumbangan dari keduanya, tetapi seberapa besar nilai keikhlasan masing-masing hanya Allahlah yang tahu, namun sebagai hamba yang dikaruniai akal hendaknya kita berpikir.

Dari dua perbandingan tersebut mungkin kita menduga bahwa tekanan pembebanan bagi orang yang  berpenghasilan 1 juta lebih berat dibanding dengan yang berpenghasilan 10 juta, ternyata  yang berpenghasilan 10 juta hanya menyumbang 7.5 % dari pengasilannya sedang yang berpenghasilan 1 juta menyumbang 15 %.   Kini terlihat bahwa meski Si Penghasilan 1 juta secara nominal menyumbang  lebih sedikit tetapi nilai bagian yang ia sumbangkan  jauh lebih besar, ini menggambarkan bahwa yang berpenghasilan 1 juta lebih lapang dalam menerima pembebanan.     Inspirasi kejadian ini penulis  temukan saat menjadi panitia pembangunan masjid di tempat penulis berada.   Hikmah apakah yang dapat kita petik di balik fenomena ini ?

(Hikmah 1). Meski keduanya menyatakan iklas dalam beramal, dari fenomena tersebut kita dapat melihat bahwa ternyata secara psikologis nilai rasa tertekan  Si penghasilan besar lebih besar dibanding dengan  Si berpenghasilan  kecil ketika pembebanan itu datang, yang dalam hal ini  membangun masjid.  Rasul bersabda :

إنّ اللهَ تَعالَى لاَ ينْظُرُ إليَ صَوارِكُمْ و أمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ إنَّما َيَنْظُرُ إلَي قُلُوْبِكُمْ وَ أعْمَالِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuhmu dan pula harta-hartamu, tetapi Allah melihat pada hatimu dan amal-amal perbuatanmu.” (HR. Muslim dan Ibn Majah)
.1
(Hikmah 2).  Fenomena di atas menggambarkan bahwa orang yang telah terbiasa mengalami tekanan hidup lebih berat ternyata menghasilkan kekuatan yang lebih sempurna dalam menerima pembebanan.  Mereka lebih ringan memikul pembebanan, terlihat nilai bagian penghasilan yang ia berikan lebih besar.  Dalam suatu hadist disebutkan bahwa,

إ ذا قَالَ الفَقِيْرُ سُبْحَنَ اللهِ والحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَإلَهَ اللهُ واللهُ أكْبَرُ مُحْلِصاً وَيَقولُ الغَنِيىُّ مِثْلَ ذَلِكَ 

مُحْلِصاً لَمْ يَلْحَقِ الغَنِىُّ مَعَهَا عَشْرَةَ اَلافِ دِرْهَمٍ وَكَذَلِكَ اَعْمَالُ البِرِّ كُلِّهِ 

”Jika orang miskin (yang sabar) mengucapkan ‘subhanallah-wal hamdulillah wal laa ilaha ilallah wallahu akbar dengan ikhlas, maka orang kaya tidak dapat mengejar  orang miskin meskipun beserta  ucapan  itu menafkahkan sepuluh ribu dirham. Demikian juga  untuk  setiap amal-amal kebaikan (yang dilakukan orang miskin).” (HR Abu Laits) 2

(Hikmah 3).  Ujian berupa kenikmatan itu  sebenarnya lebih berat dibanding dengan ujian berupa keburukan. Yang dimaksud buruk disini adalah lepasnya sesuatu dari tangan seorang hamba, yang menurut hamba hal tersebut baik. Padahal Allah SWT meperingatkan.

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا 

تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu  membenci sesuatu, padahal dia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah [2]:216).

(Hikmah 4).  Hakekat kemiskinan atau kekayaan itu sebenarnya kadar spiritualitas  yang melekat pada seseorang.  Maka akan kita dapati secara spiritualitas orang kaya yang miskin dan ada orang miskin yang kaya.  Allah SWT berfirman;

لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا ءَاتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al Hadid [57]: 23).
وصلّ الله على سيّدنامحمّدٍ وعلى آله و صحبه وسلّم
 Wallahu ‘alamu bishawab. 

PUSTAKA
Al Qur’an Karim
1 Imam Suyuti. _______. Al Jaamingush Shogir. Juz I.    
         Maktab Dar Ihya Alkitab  Arabiyah. Indonesia. Hal.  74
2 Nashr Al Faqih.  1995.  Tanbihul Ghofilin.  Diterjemah
            oleh Achmad Sunarto.  Balai Buku.  Surabaya. Juz 1. 
             Hal. 415-417
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar