Terima Kasih Anda Telah Mengunjungi Blog Ini

Blog ini bukan untuk tujuan komersial, bila ada gadget tambahan yang bersifat komersial itu bukan kehendak pemilik blog !

Jumat, 22 Februari 2013

Tiga Nasehat Rasulullah SAW agar Menjadi Orang yang Kuat, Mulia dan Kaya

by

Budi Wibowo

بسم الله الرّحمان الرّحيم 


مَن سَرَّهُ اَن يَكُونَ أقوَى النَّاسِ فَليَتَوَكَّلْ عَلَى اللهَ
و مَن سَرَّهُ اَن يَكُونَ أكْرَمَ النَّاسِ فَلْيَتَّقِ اللهَ
و مَن سَرَّهُ اَن يَكُونَ أغْنَى النَّاسِ فلْيَكُنْ بِمَا فِى يَداللهِ  أو ثَقََ مِنْهُ بِمَا فِى يَدِهِ


”Barang siapa keinginannya hendak menjadi orang yang paling kuat di antara manusia hendaklah dia bertawakal kepada Allah SWT,  dan barang siapa keinginannya hendak menjadi orang yang paling mulia di antara manusia hendaklah dia bertaqwa kepada Allah SWT, dan barang siapa keinginannya hendak menjadi orang yang paling kaya di antara manusia hendaklah dia
lebih mempercayai apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangannya.  *)

***

Ada 3 (tiga) nasehat Rasulullah SAW. yang patut mejadi pegangan kita secara pribadi  agar kita menjadi orang yang kuat , mulia dan kaya, atau dengan kata lain agar kita mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat:


1.  مَن َسَرَّهُ اَن يَكُونَ أقوَى النَّاسِ فَليَتَوَكَّلْ عَلَى اللهَ

Barang siapa keinginannya hendak menjadi orang yang paling kuat di antara manusia hendaklah dia bertawakal kepada Allah SWT.  (HR.  Ibn Abiddunya dari Ibn ‘Abas dengan sanad hasan)1.

Kata “tawakal”berasal dari kata “wakalah” yang berarti perwakilan.  Maka kata tawakal berarti menyerahkan segala urusan kepada  wakil.  Bila yang kita tunjuk menjadi wakil itu adalah Allah SWT, maka kita percaya bahwa segala urusan dan perolehan dari segala usaha yang kita lakukan kita serahkan kepada Allah SWT, apa dan bagaimana kesimpulannya, total tanpa syarat dan syak wasangka kepada-Nya.   Kita harus yakin bahwa apa yang kita peroleh itu adalah suatu yang pantas dan terbaik buat kita.    Jadi tawakal harus didahului dengan usaha yang maksimal bukan menyerahkan urusan kepada Allah SWT begitu saja.   Demikian sebenarnya yang dianjurkan Rasul kepada umatnya.

Godaan yang paling kuat menyerbu setiap manusia  adalah perolehan rezeki duniawi.  Banyak manusia terjebak bahwa  ukuran kemuliaan itu ditentukan oleh banyaknya perolehan rezeki atau fasilitas duniawi.  Padahal ukuran kemuliyaan itu bukan dari banyak sedikitnya harta yang kita miliki di hadapan Allah SWT, tetapi berapa besar ketaqwaan kita kepada-Nya.  

Godaan / iming2 semacam ini dapat kita atasi bila kita berserah diri kepada Allah SWT.   Kita harus yakin dan percaya bahwa dengan niat yang benar dan bermodal tawakal kebutuhan kita akan tercukupi, krn Dia telah berjanji.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah SWT, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (QS Athaalaq [65]:3)

Ketika sikap demikian telah tertanam dalam diri kita, niscaya kita  mejadi orang kuat yang dibutuhkan di tengah masyarakat.  Masyarakat akan berlindung pada kita karena mereka tahu bahwa ”backing” atau yang berada di belakang kita adalah ”Zat Yang Maha Melindungi” atau Allah SWT.


2.  مَن سَرَّهُ اَن يَكُونَ أكْرَمَ النَّاسِ فَلْيَتَّقِ اللهَ

“Barang siapa keinginannya hendak menjadi orang yang paling mulia di antara manusia hendaklah dia bertaqwa kepada Allah SWT.”

Kata taqwa berasal dari kata quwwatan yang berarti takut.  Ulama menerangkan bahwa taqwa mengandung pengertian menjalankan semua yang diperintah oleh Allah dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya.  Artinya kita harus menyesuaikan diri di tengah kehidupan ini dengan kehendak dan keridhaan Allah SWT.   Taqwa juga berarti berhati-hati dalam gerak dan tindak-tanduk dalam hidup.  Tindak tanduk itu harus sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.   

Bila demikian ketaqwaan sangat erat kaitannya dengan akhlaq yang mulia.   Artinya semakin tinggi tingkat ketaqwaan seseorang maka semakin mulia hamba tersebut di hadapan Allah dan manusia.   Maka dari itu pada kondisi lain Rasul juga bersabda
خَيْرٌ النَاسِ احْسَنُهُمْ خُلُقا

Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah yg terbaik akhlaknya. (HR Thabrani dari Abdullah bin umar).

Sebagai pengejawantahan dari firman Allah SWT

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulai di antara kamu di sisi Allah SWT adalah yang paling bertaqwa.” (QS Al Hujurat [49] : 13)

3 مَن شَرَّهُ اَن يَكُونَ أغْنَى النَّاسِ فلْيَكُنْ بِمَا فِى يَداللهِ أو ثَقَ مِنْهُ بِمَا فِى يَدِهِ

Barang siapa keinginannya hendak menjadi orang yang paling kaya di antara manusia hendaklah dia lebih mempercayai apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangannya

Yang ada disisi Allah adalah amal kebajikan kita atau tabungan pahala kita.  Sedangkan yang ada di sisi kita atau di tangan kita adalah kekayaan yang berupa harta, jabatan dan keturunan.   Tidak ada jaminan bahwa mereka yang memiliki harta yang melimpah, kerabat dan keturunan yang banyak sebagai orang  kaya di sisi-Nya.  

Jadi orang  kaya itu seperti apa ?  Adalah orang yang tidak merugi.  Yakni orang  yang timbangan pahalanya lebih berat dari pada dosanya. 

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ(6)فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ(7)وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ(8)فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ  

”Dan adapun orang yang berat  timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.  Dan orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS Al Qaariyah [101]:6-9)
   
Dalam suatu hadist disebutkan sebagai orang yang tidak bangkrut.    Secara global penampakan orang yang tidak rugi itu adalah orang yang selalu melakukan kebajikan dan menganjurkan kebenaran dan berlaku sabar.

وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2)إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر ِ( 3 )

   
”Demi masa seungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al ’Ashr [103]:1-3). 

Yang penting dari itu semua adalah keyakinan merasa cukup dan tidak memberati dunia, inilah prinsip yang membawa seseorang menjadi kaya.

Demikian uraian singkat ini semoga bermanfaat bagi diri saya dan jamaah sekalian. Amiin

بَارَكَ اللهُ لِئ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْ اَنِ الْعَظِمَ
وَنَفَعَنِئ وَ أِيَكُم بِا لاَيَاتِ وَالْذِّكْرِ الْحَكِيْمَ
وَ قُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ اَنْتَ خَيْرٌ الَّراحِمِيْنَ

_________ 
*) Imam Gozali ._____.  Syarah Kitab Minhajul ‘Abidin.
          Pustaka Alawiyah.  Semarang.  Hal. 47
1  Imam Suyuti. _______. Al Jaamingush Shogir. Juz II
         Maktab  Dar Ihya Alkitab  Arabiyah. Indonesia.
         Hal.  173.

2 komentar: