By
Budi Wibowo
بسم الله الرّمان الرّحيم
Sebelum ajal menjemput, seharusnya hamba yang biasa melakukan tipu daya
terhadap Allah segera berhenti, berhenti dari pola
berpikir demikian. Allah SWT sebenarnya menghendaki hambaNya kebaikan ketika nanti
menghadap keharibaan-Nya. Semoga Allah SWT memberi kesempatan untuk memperbaiki
sikap kita di hadapan-Nya. Aamiin
***
Dalam pergaulan hidup sehari-hari
kita telah mendengar istilah “makar”. Istilah ini diadopsi dari
bahasa Alqur’an yang berarti tipu muslihat atau tipu daya. Perhatikan Firman Allah berikut:.
وَمَكَرُوْا
وَمَكَرَ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ
Artinya : Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." (QS Ali ‘Imran (3):54).
Makar dalam Islam merupakan hasil olah pikir.
Telah dikisahkan dalam Alqur’an bahwa ketika Adam dan Hawa berada dalam syurga datanglah Iblis dengan berbagai cara membuat tipu daya agar Adam dan Hawa mendekati pohon buah kuldi, adalah pohon buah terlarang yang harus dihindari oleh mereka berdua. Karena dorongan nafsu atau keinginan kuat untuk mencicipi, akhirnya Adam dan Hawa mendekati dan memakan buah tersebut. Padahal mereka berdua telah diperingatkan Allah SWT agar tidak mendekati pohon tersebut.
Tamsil ini menggambarkan bahwa ada 2 (dua) buah bentuk pelanggaran perintah
(kedurhakaan) yang dilakukan oleh makhluk terhadap Allah SWT. Sebagaimana
Imam Gozali ra, dalam kitab Mukasafatul Qulub, menjelaskan
1. 1. Kedurhakaan hamba kepada Allah SWT, sebab permainan akal yang dalam hal ini diperankan oleh Iblis.
2. Kedurhakaan hamba kepada Allah SWT, sebab permainan hawa nafsu. yang dalam hal ini diperankan oleh Adam dan Isterinya.
Perbuatan
makar dalam islam sulit mendapat ampunan.
قَالَا
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami,
kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan
tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (Al A’raf (7
):23
فَتَلَقّٰى
اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهِ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِۗ اِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
Kemudian, Adam menerima beberapa
kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sesungguhnya Dialah Yang
Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah (2):37).
Sebaliknya Iblis yang melakukan pendurhakaan melalui olah pikir atau melakukan tipu daya terhadap Adam tidak mendapatkan ampunan dan telah ditetapkan sebagai penghuni neraka selamanya.
Pelaku tipu daya tidak mudah mendapat hidayah dari Allah SWT.
Tolok ukur kecerdikan seseorang di hadapan Allah SWT adalah seberapa kuat seseorang mampu melakukan penjagaan nilai ketaqwaan dalam dirinya. Puasa Romadhan merupakan salah satu therapy atau riyadhah saja yang diwajibkan untuk melakukan penjagaan tersebut, kemudian sikap itu dilanjutkan di luar bulan puasa. Ending point dari perintah tersebut adalah diharapkan semakin tua atau semakin berumur seorang hamba kadar ketaqwaan mereka seharusnya semakin bertambah. Artinya manusia tidak boleh melakukan pengulangan pendurhakaan yang sama yang pernah dilakukan dalam perjalanan hidupnya, inilah salah satu ciri hamba yang bertaqwa. ”Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya, sedang mereka mengetahui” ( وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُون } (QS Ali Imran [3]:135), itulah sebab panggilan ibadah puasa terus didengungkan setiap tahun selama hayat masih di kandung badan.
Jadi kita tidak boleh berfikir matematis bahwa tidak masalah mengulangi perbuatan keji yang sama di luar bulan Ramadhan toh nanti akan datang lagi bulan pengampunan itu. Pernyataan demikian mengandung makna tipu daya hamba pada Tuhannya. Allah tidak akan memberikan hidayah pada hamba-Nya yang berpola pikir demikian, sebagaimana sikap Iblis kepada-Nya.
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ثُمَّ كَفَرُوْا ثُمَّ اٰمَنُوْا
ثُمَّ كَفَرُوْا ثُمَّ ازْدَادُوْا كُفْرًا لَّمْ يَكُنِ اللّٰهُ لِيَغْفِرَ
لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيْلًا
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman lalu kafir, kemudian beriman (lagi), kemudian kafir
lagi, lalu bertambah kekafirannya, maka Allah tidak akan mengampuni mereka, dan
tidak (pula) menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus). ( QS An-Nisa (4 ): 137)
Maka sebelum ajal menjemput, seharusnya hamba
yang biasa melakukan tipu daya terhadap Allah segera berhenti dari pola
berpikir demikian. Jadi Allah SWT sebenarnya menghendaki hambanya kebaikan ketika nanti
menghadap keharibaan-Nya. Semoga Allah SWT menerima ibadah kita. Aamiin.
Allahu a’lamu bishawab.
Bdl, 13 Maret 2025
14 Romadhan 1446 H