Terima Kasih Anda Telah Mengunjungi Blog Ini

Blog ini bukan untuk tujuan komersial, bila ada gadget tambahan yang bersifat komersial itu bukan kehendak pemilik blog !

Minggu, 05 Mei 2013

Memahami Ilmu Seutuhnya


by
Budi Wibowo
بسم الله الرّحمان الرّ حيم

Orang yang dirundung cinta akan selalu mengingat pada yang dicintainya dan orang yang dirundung rindu akan selalu takut dilupakan oleh yang dirinduinya.  Untuk melampiaskan rasa cinta dan rindu itu dia akan selalu membaca surat yang telah dikirimkan padanya dan selalu memandang benda yang menjadi saksi kenangan padanya.  Semua yang dilakukan selalu ditujukan untuk mencapai pertemuan dengannya.  Itulah tanda orang yang dimabuk cinta dan kerinduan.   Kehadirannya selalu menebar aroma harum wangi. 

***
Setiap Obyek adalah Kalam Ilahi

Saat kita masih balita, orang tua mengajarkan nama-nama dan kita menirukannya tanpa mengerti makna yang diajarkannya.  Dengan berjalannya waktu pengetahuan kita semakin bertambah dan semakin paham secara mendalam apa yang diajarkan orang tua kita atau pihak lain yang berinteraksi dengan kita.  Saya hendak mengatakan bahwa kemampuan menginisialisasi benda maupun fenomena yang kita tangkap itu hampir seluruhnya berasal dari generasi yang lahir lebih dahulu.   Bila kita urut ke belakang maka akan kita temukan manusia pertama dan di saat itulah Sang Pencipta mengajarkan nama-nama dan fenomena jagad raya ini.   Jadi kalimat itu sebenarnya datangnya dari Sang Pencipta/Al Qadim.

وَعَلَّمَ ءَادَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

 Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman :”Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”(QS Al Baqarah :[2]:31).

Maka kita dapat mengambil hikmah bahwa pada  setiap obyek  yang kita temui di sana selalu melekat kalam Ilahi.   Kita kadang tidak sadar bila diskripsi yang telah kita lukiskan pada suatu obyek  atau fenomena tertentu sebenarnya mengutarakan kalam Ilahi.   Bila kita menemukan jejak harimau,  kita akan mengatakan bahwa “Di sana ada harimau.”  Selanjutnya kita akan berpikir bahwa bila mengikuti jejak tersebut akan kita dapati beberapa kemungkinan;  kita akan menemukan harimau, kita akan diterkam harimau,  kita akan mendapatkan harimau itu tidur, kita akan mendapatkan harimau itu berwarna kuning dengan belang hitam  dan sebagainya dan sebagainya, masih banyak lagi kemungkinan yang kita dapatkan.   Semua itu sebenarnya pernyataan yang telah dilekatkan pada sebuah obyek (dalam hal ini harimau) yang kita amati, itulah sebenarnya kalam ilahi yang tidak tertulis dalam kitab suci Al Qur’an.  Tuhan berbicara (ber-kalam) tetapi tidak seperti bagaimana makhluk berbicara.  

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ
وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan menyebut nama TuhanMu.  Yang menciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah dan Tuhanmu maha Mulia yang mengajarkan manusia dengan tulisan, mengajarkan manusia sesuatu yang belum diketahui.”(QS Al Alaq [ 96]: 1).

Ayat tersebut adalah perintah Tuhan pada awal penurunan wahyu kepada Muhammad SAW,  yakni agar manusia selalu membaca atau mempelajari nama-nama benda dan fenomena yang melekat padanya,  seperti halnya kala pertama Dia menciptakan Adam AS, dan   yang lebih menarik  dalam perintah itu adalah Dia mengingatkan agar  manusia selalu  mengaitkan setiap fenomena yang terjadi dengan Dirinya atau agar manusia selalu ingat pada-Nya.   Kini kita dapat merasakan sampai batas mana kesadaran kita dalam menangkap kehendak Tuhan tersebut selama di dunia ini.


Sesuatu itu Sebenarnya Media Yang Mempertemukan Kita dengan Tuhan

Jadi Tuhan telah mengingatkan kepada  kita agar setiap saat belajar dan mempelajari sesuatu yang berada di sekitar kita yang sebenarnya sesuatu itu merupakan media yang mempertemukan antara kita dengan-Nya.   Pernahkah Anda perhatikan pepohonan di sekitar kita sementara angin sepoi berhembus, pepohonan itu lembut berayun memberi kesan  mendalam bahwa sebenarnya mereka juga berbicara, apalagi di situ berkicau burung liar dengan irama tidak teratur saling bersautan, justru ketidak-teraturan irama itu memberikan kesan lebih dinamis hidup dan indah.  Atau pernahkan Anda memperhatikan ketika bunga-bunga di taman depan rumah kita merekahkan bunganya dengan ceria seakan tersenyum berucap terima kasih  sebab sentuhan kasih sayang   kita ?   Atau pernahkah Anda perhatikan jalan menuju masjid/mushola yang kita tapaki setiap hari seakan ikut mengucap selamat kepada kita ?    Mereka semua adalah makhluk Allah SWT yang hidup dan berbicara dengan bahasa masing-masing.   Seandainya kita mau menyadari bahwa  mereka itu adalah media yang mempertemukan kita dengan Allah SWT niscaya kita akan banyak bersyukur padaNya.  Allah berfirman,
قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

 “ Dia yang menciptakan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati tetapi sedikit sekali manusia yang bersyukur”. (QS Al Mulk [67]:23 ).

Makna di balik firman tersebut di antaranya adalah  manusia diperintahkan agar  selalu memanfaatkan potensi indera yang telah dianugerahkan kepadanya itu untuk mempelajari benda-benda termasuk yang ada pada dirinya dan fenomena yang melekat pada benda-benda tersebut sebagai media komunikasi denganNya, tetapi sedikit sekali manusia yang bersyukur atau memperhatikan TuhanNya.  Syibli, mengatakan bahwa syukur adalah memperhatikan (Dzat) yang memberikan kenikmatan, bukan pada kenikmatan-Nya.1   

Jadi Tuhan selalu mengingatkan hambaNya agar tidak bosan-bosan meneguk pengetahuan dengan mempelajari benda-benda di sekitanya dan fenomena yang melekat padanya termasuk yang ada pada diri hamba tersebut secara utuh.    Bila pemahaman itu hanya sepotong kita akan terjebak pada mindset kaum materialis, yakni pola hidup keduniawian  yang hanya berprinsip untung rugi semata.    Bila Anda seorang petani yang Anda harap hanya panen  banyak semata, bila Anda seorang pengusaha yang Anda harap hanya keuntungan besar dengan berbagai cara Anda perbuat, Bila Anda seorang birokrat yang Anda tuju hanya bagaimana mendapatkan tambahan  besar dari kedudukan yang Anda peroleh, bila Anda seorang peneliti yang Anda kejar hanya perolehan jasa yang besar.  Semua menggambarkan prinsip untung rugi yang terggambar dalam kepala bahwa ukuran kebahagiaan itu hanya ditentukan oleh harta dan kedudukan semata dan tidak terbesit keberadaan Tuhan yang terkait dengannya. 


Tiada Sesuatu yang Bermanfaat Kecuali Sesuatu itu Menambah Kedekatan Kita Kepada Allah SWT

Tiada sesuatu yang bermanfaat kecuali sesuatu itu menambah kedekatan kita kepada Allah SWT.  Pemahaman sepotong dalam mempelajari benda dan fenomena yang ada di sekitarnya jelas tidak akan mewujudkan peningkatan kedekatan kepada Allah SWT, meskipun fenotype pemiliknya menampakkan simbul-simbul kedekatan kepada Allah SWT, karena masih terbungkus di dalamnya derivat keangkuhan, hipokrit dan hasad.  Pemahaman sepotong dan seutuhnya itu menandakan perbedaan antara orang yang berakal dan tidak berakal di hadapan Allah SWT.   Allah SWT berfirman,

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda orang yang berakal , (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) :” Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Al Imran:3:190).

Ayat tersebut menggambarkan orang yang memahami ilmu seutuhnya dan itulah tanda orang yang berakal.  Dalam ayat tersebut tergambar bahwa dia adalah orang yang selalu ingat kepada Allah SWT,  mempelajari  ciptaanNya dan  takut akan siksaNya.  Allah berfirman bahwa mereka itulah orang-orang yang hidup

 لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah ketetapan (azab) teradap orang kafir.” (QS Yaasin [36]:70)

Nabi bersabda bahwa orang yang tidak ingat kepda Allah SWT itu sebagai bangkai yang berjalan

مَثَلُ الّذيْ يَذكُرُ اللهَ والّذِى لا يَذكُرُ اللهَ مَثَلُ الحَيِّ وَ المَيِّتُ

Perumpamaan (perbandingan) orang yang ingat akan Allah dan orang yang tidak ingat akan Allah adalah seperti orang yang hidup dan mati.” (HR Bukhori) 2

Maka pemahaman bagi orang yang selalu ingat akan Tuhannya adalah keharuman akhlak yang ia taburkan di tengah masyarakat, sebaliknya bukan penabur kebusukan laksana bangkai yang menjijikan sabagaimana penggambaran yang telah disampaikan rasul tersebut.    Demikian pemahaman tentang seharusnya memahami ilmu itu secara utuh.  Semoga bermanfaat bagi diri penulis dan pembaca sekalian.  Amiin.

***
Orang yang dirundung cinta akan selalu mengingat pada yang dicintainya dan orang yang dirundung rindu akan selalu takut dilupakan oleh yang dirinduinya.  Untuk melampiaskan rasa cinta dan rindu itu dia akan selalu membaca surat yang telah dikirimkan padanya dan selalu memandang benda yang menjadi saksi kenangan padanya.  Semua yang dilakukan selalu diutujukan untuk mencapai pertemuan dengannya.  Itulah tanda orang yang dimabuk kerinduan dan cinta.   Kehadirannya selalu menebar aroma harum wangi.
و صلّ الله على سيّدنا محمّد وعلى آله وصحبه وسلّم
Wallahu a’lamu bishawab.


PUSTAKA

AL Qur’an Karim

1  Al- Qusyairi._____. Ar-Risalatul Qusyairiyah Fi’Ilmit Tashawwuf.
         Darul Khair. Penyadur Umar Faruq.  2002.  Judul Risalah
         Qusyairiyah Sumber Kajian  Ilmu Tasawuf.  Pustaka
         Amani. Jakarta. Hal 246.

2    Imam Nawawi.  2004 M/1425H.  Riyadush Shaalihin.
         Dar Al-Kotob Al-Ilmiah.  Beyrouth.  Lebanon.  Cet. VI.
         Hal. 289.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar