Terima Kasih Anda Telah Mengunjungi Blog Ini

Blog ini bukan untuk tujuan komersial, bila ada gadget tambahan yang bersifat komersial itu bukan kehendak pemilik blog !

Jumat, 25 Juli 2014

Fitnah

by
Budi Wibowo

بسم الله الرّحمان الرّحية

Kini dapat kita rasakan betapa beragamnya bentuk kedunguan.    Ada kedunguan berbungkus akademisi, ada kedunguan berbungkus jabatan, ada kedunguan berlabel politikus, ada kedunguan berlabel agama dan kedunguan tanpa label. 

***
Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.  Ungkapan ini telah popular sekali di tengah masyarakat.  Ungkapan ini bukan hanya isapan jempol belaka sebab yang pertama mengungkapkan istilah  tersebut  adalah Allah SWT dalam firman-Nya  sbb.

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

Fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan. (QS Al Baqarah [2]:191).

Saudara kata fitnah adalah kata  adu domba,  kedua kata ini erat kaitannya dengan perbuatan dusta (bohong).    Perbuatan demikian termasuk dosa besar.   Allah SWT melabeli ahli fitnah itu sebagai orang gila.
فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ  بِأَيِّيكُمُ الْمَفْتُونُ

Kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) akan melihat.  Siapa di antara kamu yang gila. (QS Al Qalam [68] : 4-5).

Allah SWT melarang mengikuti atau turut menyebarkan  perbuatan fitnah.

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ  هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

Dan janganlah kamu ikuti orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela kian kemari menghambur fitnah. (QS Al Qalam [68] : 10-11).

Pada ayat sebelumnya Allah SWT memperingatkan, bahwa kita dilarang menyebarkan berita yg belum kita ketahui kebenarannya.  Seperti termaktub dalam ayat berikut.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.  Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS AI Isra ‘ [17 ]:36).

Untuk menghindari hal yang tidak kita inginkan Rasul mengingatkan;

مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَ اليَومِ الاخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً اَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia selalu berkata baik atau diam. (HR Bukhori ).1

***

Ada 2 (dua) buah bentuk kedurhakaan (pelanggaran perintah) yang dilakukan oleh manusia terhadap Allah SWT.   Sebagaimana Imam Gozali RA, menjelaskan dalam kitabnya Mukasafatul Qulub 2,

1. Kedurhakaan hamba kepada Allah SWT, sebab   permainan hawa 
 nafsu.  Contoh : Orang      mencuri karena lapar.
2. Kedurhakaan hamba kepada Allah SWT,   sebab permainan akal   Contoh : Korupsi dan         Adu domba (fitnah).
 Fitnah termasuk  dosa yang sulit mendapatkan pengampunan   sebab terjadinya permainan akal ,  kecuali bertobat dengan sebenar-benar tobat.   “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan”  meski firman ini diungkapkan dalam kalimat berita, sudah cukup bagi mereka yang memiliki kedekatan kepada Allah SWT sebagai ungkapan yang sangat keras.  Rasul pernah menyatakan bahwa lenyapnya dunia itu bagi Allah SWT lebih ringan dari pada dibunuhnya seorang muslim.  Kita perhatikan sabda Beliau berikut.

لَزَوَالُ الدُّنْيا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia itu bagi Allah lebih ringan dari dibunuhnya seorang muslim (HR Turmizi dan An-Nasai  dari Ibn Umar, shohih) 3

Fitnah merupakan hasil bisikan iblis yang menyembul pada permukaan diri manusia.  Perbuatan ini termasuk perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran dan pikiran penuh.   Bisikan ini menjangkau ke pelbagai permukaan, dari orang awam hingga orang yang mengaku sebagai ilmuwan sekaligus.  Bila menyembul pada ilmuwan bahayanya akan lebih besar sebab mereka merupakan panutan dari kalangan awam atau para murid dan pengikutnya.   Kalau menyembul pada tokoh masyarakat juga sangat besar dampaknya sebab mereka menjadi referensi bagi rakyat atau para pengikutnya.   Dalam Al Qur’an Allah SWTmenyebutnya sebagai partai syaiton  atau hisbusy syaiton.
 
Oleh karena itu tidak ada alasan sebagai penyandang dosa ringan saja bagi penyubur fitnah atau pengikut tendensius yang ikut menyebarkan fitnah sebelum tabayun  (menyelidiki kebenaran).   Mari kita perhatikan sabda Rasul SAW berikut;

اِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِن رِضْوَانِ اللهِ تَعَالَى مَا يُلقِى لَهَا بَالاً يَرْفَعُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ, و اِنَّ 

العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالَى لا يُلْقىِ لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ

Ada seorang hamba yang berbicara dengan satu kalimat yang membuat ridha Allah SWT yang tanpa ia sadari Allah mengangkat derajatnya karena kalimat itu.  Dan tentu ada seorang hamba yang berkata dengan satu kalimat yang membuat Allah SWT murka yang tanpa ia sadari, Allah menjebloskannya ke dalam neraka karena kalimat itu. (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, hasan-shohih ).4

Ketendensiusan  lebih menggambarkan adanya kesadaran dan perencanaan penuh bagi pelakunya dibanding dengan sesuatu yang tidak sengaja sebagaimana tersebut dalam hadist di atasFitnah-fitnah itu biasanya timbul  tatkala terjadi pemilihan pemimpin dalam alam demokrasi.  Seperti yang telah penulis saksikan  dalam masa kampanye pemilihan pemimpin,  terdapat  sebuah tabloid yang berisi fitnah yang berhasil diungkap petugas keamanan.   Dalam dunia maya lebih ramai dan dahsyat lagi.  Bila dalam Kitab disebutkan ahli fitnah aktiv sebagai orang yang tidak waras (gila), maka cukuplah bagi pengikut yang tendensius  sebagai  pengikut fanatik / dungu.

Kini dapat kita rasakan betapa beragamnya bentuk kedunguan.    Ada kedunguan berbungkus akademisi, ada kedunguan berbungkus jabatan, ada kedunguan berlabel politikus, ada kedunguan berlabel agama dan kedunguan tanpa label.  Semoga pembaca/jama’ah sekalian tidak termasuk di dalamnya. Waallahu ‘alamu bishawab.

PUSTAKA
Al Qur’an Karim
1  Al-Bukhari, Al-Sindi. 2011.  Shohih Al Bukhari  Dar
           Al Kotob Al Ilmiyah.  Lebanon. Edisi 5. Juz 4.  Hal.105.       
2 Al Gozali, Muhammad Abu Hamid.____. Mukasafatu Al-Qulub. Al
           Haramain Indinesia. Hal 23-25
3 Imam Suyuti. _______. Al Jaami’ush Shogir.  Maktab
            Dar Ihya AlKitab Arabiyah.  Juz 2.   Indonesia.  Hal. 123
4 Imam Suyuti. _______. Al Jaami’ush Shogir.  Maktab
            Dar Ihya AlKitab Arabiyah.  Juz 1.   Indonesia.  Hal. 82

====== 
Materi khutbah jum’at 4 Juli 2014, di salah satu masJid di Bandarlampung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar