Terima Kasih Anda Telah Mengunjungi Blog Ini

Blog ini bukan untuk tujuan komersial, bila ada gadget tambahan yang bersifat komersial itu bukan kehendak pemilik blog !
Tampilkan postingan dengan label khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khotbah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

Keadilan Allah SWT.

Keadilan Allah SWT

by
Budi Wibowo

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Hendak kemana lagi?  Dimanapun  engkau menghembuskan nafas panah ujian terus menghujan, tidak ada perisai yang mampu melindungi kecuali engkau mengerti bahwa dimanapun keberadaanmu  anak panah ujian selalu menghujan.
***
Rukun Iman yang pertama  adalah beriman kepada Allah SWt.  Salah satu sifat Allah adalah ‘maha adil’, yakni memposisikan sesuatu sesuai pada tempatnya.  Konsekwensi mengimani sifat ini adalah menerima  apa yang diperoleh tanpa mempersoalkan baik kuantitas maupun kwalitas rezeki secara fisik maupun non fisik.   Percaya bahwa apa yang diperoleh dan lakoni saat ini adalah keputusan Allah yang terbaik.  Kesadaran seperti inilah yang harus menjadi pegangan setiap hamba yang beriman.  Keasadaran demikian disebut ‘qona’ah’.    Rasul bersabda;

القَنَاعَةُ مَالُ لاَ يَنْفَدُ

“Qona’ah adalah harta yang tidak akan hilang.” (HR Imam Suyuti dari Anas r.a salam kitab Jami’us Shagir).

Dapat dimaknai bahwa bila seorang hamba telah memiliki sifat qona’ah yang kuat mereka akan mendapatkan   ketenangan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.   Maka qona’ah dapat kita gambarkan sebagai perisai untuk  melindung serangan ujian dari berbagai penjuru yang sengaja dibidikkan Allah SWt kepada manusia.   
Allah SWt memang sengaja menciptakan ujian untuk hamba-Nya selama di dunia ini, yang sebenarnya  sebagai manifestasi dari sifat sayang-Nya terhadap manusia.  

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(1)  الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ

أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ(2)

Maha suci Allah yang menguasai segala kerajaan dan Dia Maha kuasa atas egala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu siapa diantara  kamu yang lebih baik amalnya.  Dan Dia Maha perkasa dan Maha Pengampun. (QS Al Mulk [67]: 1- 2). 

Pada ayat lain Allah SWt berfirman;

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ(2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka itu tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta. (QS Al Ankabut [69]:2-3).

Kisah sekelompok hamba yang 
menuntut keadilan
Dalam suatu hadist dikisahkan bahwa  
pernah terjadi segolongan kaum dhuafa mengirim utusan menghadap Rasulullah Saw, mengadu tentang keadaan mereka. 
Kemudian Rasul menggambarkan tentang keutamaan mereka, sbb;

إ ذا قَالَ الفَقِيْرُ سُبْحَنَ اللهِ والحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَإلَهَ اللهُ واللهُ أكْبَرُ مُحْلِصاً وَيَقولُ الغَنِيىُّ مِثْلَ ذَلِكَ

 مُحْلِصاً لَمْ يَلْحَقِ الغَنِىُّ مَعَهَا عَشْرَةَ اَلافِ دِرْهَمٍ وَكَذَلِكَ اَعْمَالُ البِرِّ كُلِّهِ 

“Jika seorang miskin (yang sabar) mengucapkan subhanalallah, walhamdulillah wa laa ila ha illa allahhu Allahhu akbar  dengan ikhlas, maka orang kaya tidak dapat mengejar orangg miskin meskipun beserta ucapan itu menafkahkan sepuluh ribu dirham.  Demikian pula untuk setiap amal-amal kabaikan (yang dilakukan orang miskin)”. (HR Abu Laits.).
Pada hadist yang lain dikisahkan;

عن أ بي هريرة أنّ رسول الله صلّى الله صلّى الله عليه وسلّم قَلَ

سَبَق َ دِرْهَمٌ مِاءَةَ أَلْفٍ , فَقَلَ رَجُلٌ لَهُ  وَكَيْفَ ذَاكَ ياَ رَسو اللهِ ?

 قَلَ  رَجُلٌ لَهُ مَالٌ كَثِيْرٌ  أَخَذَ مِنْ عُرْضِهِ مِاءَةَ أَلفٍ , فَتَصَدَقَ بِهَا, و رَجُلٌ لَيْسَ لَهُ إِلاَّ دِرْهَمَانِ 

فَأَخَذَ أَحَدَ هُمَا فَتَصَدَّقَ بِهِ

Dari Abu Hurairah r.a, Nabi s.a.w bersabd, “ Satu dirham mengalahkan seratus ribu dirham.” Lalu seorang sahabat bertanya , “Bagaimana itu bias terjadi , wahai Rasululullah?” Nabi menjawab, “Seseorang memiliki harta yang banyak, lalu mengambil sebagian hartanya seratus ribu dirham kemudian disedekahkan.  Seorang ang lain tidak memiliki harta selain dua dirham, lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan.” (HR An Nasa’I dan Al-Hakim).

Kesimpulan
1.               1.    Di hadapan Allah SWt hamba itu sama yang membedakan adalah ketaqwaannya.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

          “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling                         bertaqwa di antara kamu.”(QS Al Hujurat [49]:13)

  1.  Allah tidak melihat harta, jabatan dan keadaan hamba secara fiskal, tetapi Dia melihat bagaimana  bathin atau qalbu dan amal perbuatan hamba-Nya.
إنّ الله تعالى لا ينْظر إلي صواركم و أموالكم

 و لكنْ إنما ينظر إلي قلوبكم و أعمالكم

Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuhmu dan pula harta-hartamu, tetapi Allah melihat pada hatimu dan amal perbuatanmu.” (HR. Muslim dan Ibn Majah).

   3.     Kebahagiaan seorang hamba bukan diukur dengan kekayaan dan jabatan seseorang tetapi                            kebahagian itu dapat terlihat sampai seberapa kuat seorang hamba mempertahankan sifat qonaah,                  yakni sikap yang selalu mengedepankan bahwa apa yang diperoleh sedikit atau banyak adalah                      pilihan Allah SWt yang terbaik.

        Allahu 'alamu bishawab. 

وصلّ الله على سيّدنامحمّدٍ وعلى آله و صحبه وسلّم
Semoga bermanfaat.

بَارَكَ اللهُ لِئ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْ اَنِ الْعَظِمَ

وَنَفَعَنِئ وَ أِيَكُم بِا لاَيَاتِ وَالْذِّكْرِ الْحَكِيْمَ وَ قُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ اَنْتَ خَيْرٌ الَّراحِمِيْنَ                                                                    

»»  LANJUT...

Jumat, 25 Juli 2014

Fitnah

by
Budi Wibowo

بسم الله الرّحمان الرّحية

Kini dapat kita rasakan betapa beragamnya bentuk kedunguan.    Ada kedunguan berbungkus akademisi, ada kedunguan berbungkus jabatan, ada kedunguan berlabel politikus, ada kedunguan berlabel agama dan kedunguan tanpa label. 

***
Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.  Ungkapan ini telah popular sekali di tengah masyarakat.  Ungkapan ini bukan hanya isapan jempol belaka sebab yang pertama mengungkapkan istilah  tersebut  adalah Allah SWT dalam firman-Nya  sbb.

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

Fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan. (QS Al Baqarah [2]:191).

Saudara kata fitnah adalah kata  adu domba,  kedua kata ini erat kaitannya dengan perbuatan dusta (bohong).    Perbuatan demikian termasuk dosa besar.   Allah SWT melabeli ahli fitnah itu sebagai orang gila.
فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ  بِأَيِّيكُمُ الْمَفْتُونُ

Kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) akan melihat.  Siapa di antara kamu yang gila. (QS Al Qalam [68] : 4-5).

Allah SWT melarang mengikuti atau turut menyebarkan  perbuatan fitnah.

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ  هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

Dan janganlah kamu ikuti orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela kian kemari menghambur fitnah. (QS Al Qalam [68] : 10-11).

Pada ayat sebelumnya Allah SWT memperingatkan, bahwa kita dilarang menyebarkan berita yg belum kita ketahui kebenarannya.  Seperti termaktub dalam ayat berikut.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.  Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS AI Isra ‘ [17 ]:36).

Untuk menghindari hal yang tidak kita inginkan Rasul mengingatkan;

مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَ اليَومِ الاخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً اَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia selalu berkata baik atau diam. (HR Bukhori ).1

***

Ada 2 (dua) buah bentuk kedurhakaan (pelanggaran perintah) yang dilakukan oleh manusia terhadap Allah SWT.   Sebagaimana Imam Gozali RA, menjelaskan dalam kitabnya Mukasafatul Qulub 2,

1. Kedurhakaan hamba kepada Allah SWT, sebab   permainan hawa 
 nafsu.  Contoh : Orang      mencuri karena lapar.
2. Kedurhakaan hamba kepada Allah SWT,   sebab permainan akal   Contoh : Korupsi dan         Adu domba (fitnah).
 Fitnah termasuk  dosa yang sulit mendapatkan pengampunan   sebab terjadinya permainan akal ,  kecuali bertobat dengan sebenar-benar tobat.   “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan”  meski firman ini diungkapkan dalam kalimat berita, sudah cukup bagi mereka yang memiliki kedekatan kepada Allah SWT sebagai ungkapan yang sangat keras.  Rasul pernah menyatakan bahwa lenyapnya dunia itu bagi Allah SWT lebih ringan dari pada dibunuhnya seorang muslim.  Kita perhatikan sabda Beliau berikut.

لَزَوَالُ الدُّنْيا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia itu bagi Allah lebih ringan dari dibunuhnya seorang muslim (HR Turmizi dan An-Nasai  dari Ibn Umar, shohih) 3

Fitnah merupakan hasil bisikan iblis yang menyembul pada permukaan diri manusia.  Perbuatan ini termasuk perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran dan pikiran penuh.   Bisikan ini menjangkau ke pelbagai permukaan, dari orang awam hingga orang yang mengaku sebagai ilmuwan sekaligus.  Bila menyembul pada ilmuwan bahayanya akan lebih besar sebab mereka merupakan panutan dari kalangan awam atau para murid dan pengikutnya.   Kalau menyembul pada tokoh masyarakat juga sangat besar dampaknya sebab mereka menjadi referensi bagi rakyat atau para pengikutnya.   Dalam Al Qur’an Allah SWTmenyebutnya sebagai partai syaiton  atau hisbusy syaiton.
 
Oleh karena itu tidak ada alasan sebagai penyandang dosa ringan saja bagi penyubur fitnah atau pengikut tendensius yang ikut menyebarkan fitnah sebelum tabayun  (menyelidiki kebenaran).   Mari kita perhatikan sabda Rasul SAW berikut;

اِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِن رِضْوَانِ اللهِ تَعَالَى مَا يُلقِى لَهَا بَالاً يَرْفَعُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ, و اِنَّ 

العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالَى لا يُلْقىِ لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ

Ada seorang hamba yang berbicara dengan satu kalimat yang membuat ridha Allah SWT yang tanpa ia sadari Allah mengangkat derajatnya karena kalimat itu.  Dan tentu ada seorang hamba yang berkata dengan satu kalimat yang membuat Allah SWT murka yang tanpa ia sadari, Allah menjebloskannya ke dalam neraka karena kalimat itu. (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, hasan-shohih ).4

Ketendensiusan  lebih menggambarkan adanya kesadaran dan perencanaan penuh bagi pelakunya dibanding dengan sesuatu yang tidak sengaja sebagaimana tersebut dalam hadist di atasFitnah-fitnah itu biasanya timbul  tatkala terjadi pemilihan pemimpin dalam alam demokrasi.  Seperti yang telah penulis saksikan  dalam masa kampanye pemilihan pemimpin,  terdapat  sebuah tabloid yang berisi fitnah yang berhasil diungkap petugas keamanan.   Dalam dunia maya lebih ramai dan dahsyat lagi.  Bila dalam Kitab disebutkan ahli fitnah aktiv sebagai orang yang tidak waras (gila), maka cukuplah bagi pengikut yang tendensius  sebagai  pengikut fanatik / dungu.

Kini dapat kita rasakan betapa beragamnya bentuk kedunguan.    Ada kedunguan berbungkus akademisi, ada kedunguan berbungkus jabatan, ada kedunguan berlabel politikus, ada kedunguan berlabel agama dan kedunguan tanpa label.  Semoga pembaca/jama’ah sekalian tidak termasuk di dalamnya. Waallahu ‘alamu bishawab.

PUSTAKA
Al Qur’an Karim
1  Al-Bukhari, Al-Sindi. 2011.  Shohih Al Bukhari  Dar
           Al Kotob Al Ilmiyah.  Lebanon. Edisi 5. Juz 4.  Hal.105.       
2 Al Gozali, Muhammad Abu Hamid.____. Mukasafatu Al-Qulub. Al
           Haramain Indinesia. Hal 23-25
3 Imam Suyuti. _______. Al Jaami’ush Shogir.  Maktab
            Dar Ihya AlKitab Arabiyah.  Juz 2.   Indonesia.  Hal. 123
4 Imam Suyuti. _______. Al Jaami’ush Shogir.  Maktab
            Dar Ihya AlKitab Arabiyah.  Juz 1.   Indonesia.  Hal. 82

====== 
Materi khutbah jum’at 4 Juli 2014, di salah satu masJid di Bandarlampung
»»  LANJUT...

Senin, 05 Mei 2014

Krisis Moral

by
Budi Wibowo*)

بسم الله الرّحمان الرّحيم



Berkat kemajuan teknologi, dunia ibarat  kampung kecil saja.  Manusia sekarang sangat mudah menjangkau ke belahan bumi mana ia hendak pergi,  ke belahan mana  hendak melihat budaya masyarakat,  bahkan mudah sekali anak-anak kita melihat adegan pornografis maupun  tindakan-tindakan yang tidak berdasar pada tuntunan moral yang benar.   Padahal apapun yang masuk dalam brain atau pikiran generasi sekarang seharusnya disaring  melalui saringan agama terlebih dahulu.     Kini harus kita sadari bahwa kemajuan tehnologi  menuntut  semakin diperlukannya pendidikan agama  lebih keras,  sebab tanpa diimbangi tindakan demikian maind set /  pola pikir putra-putri kita akan didominasi oleh sifat hawaniyahnya.    

***  
Penciptaan Manusia

Malaikat diciptakan dengan memiliki akal tetapi tidak dengan nafsu, binatang diciptakan tidak  memiliki akal tetapi memiliki nafsu, sedangkan manusia diciptakan memiliki akal dan memiliki nafsu.   Maka setiap amal/tindakan  manusia  selalu mengikuti dorongan dua komponen tersebut yakni akal dan nafsu.   Bila kita mau merenung sejenak sebenarnya dalam diri manusia  selalu terjadi pergumulan hebat antara akal dan nafsu.   

Sifat Manusia
  1.  Sifat Insaniyah
Ketika akal menguasai maka amal seseorang mengikuti sifat malaikat  yaitu melakukan kebaikan atau sikap-sikap terpuji, seperti sadar akan kewajiban beribadah, belajar atau menuntut ilmu, bekerja, belas kasihan terhadap sesama, dsb.  ulama juga menyebut sifat ini sebagai sifat  insaniyah.   Pendek kata sifat insaniyah itu tampak pada manusia ketika dia mampu menundukkan  kebinalan nafsunya.   Dalam suatu hadist Rasul bersabda;
Bunga Dligo
لا يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَى يَكُونُ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِه

“Masih belum sempurna iman seseorang di antara kalian sebelum keinginannya (hawa nafsunya) mengikuti petunjuk yang kusampaikan (HR. Al Baghawi, Tabrizi, Ibn Abu ‘Ashim, Muttaqi Al-Hindiy, Ibnu Hajar dan Al Khatib).1

Sebenarnya fitrah (sifat dasar) manusia itu  tunduk dan taat kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT sbb;
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah pada)  fitrah (dari) Allah.   Dia  yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.  Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.  (Itulah) agama (nasehat)  yang lurus;  tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Rum :30 :30).
   
  1. Sifat Hawaniyah
Tetapi ketika nafsu yang mendominasi  amal yang ditimbulkan mengikuti sifat  hawaniyah,  yakni terjadinya penonjolan naluri makan, minum, sex,  serakah dan amarah.    Karena nafsu yang mendominasi maka akal akan mengikuti kemauan nafsu.   Krisis moral yang terjadi seperti kasus paedofilia (sex predator), narkoba,  korupsi, money politik,  perselingkuhan yang berujung pembunuhan menggambarkan sifat hawaniyah tersebut.   Daya rusak  sifat hawaniyah ini lebih dahsyat dari hewan sebenarnya, sebab terjadinya penaklukan akal tadi.  Keadaan ini telah dijelaskan  Allah SWT dalam Surat At Tin, sbb:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan”. (QS At Tin [95]:4-6).
Maka dari itu pada kesempatan lain Rasul bersabda:
 اَلْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللهِ

Mujahid (sejati) adalah orang yang berjihad melawan nafsunya di jalan Allah” (HR Tirmidzi) 2 


Peran Orang Tua dalam Mengatasi Krisis Moral

Pertanyaannya mengapa krisis moral ini sekarang mewabah di negeri ini ?  Jawabnya, agama tidak dipegang atau diresapi secara mantap dalam jiwa sebagian besar anak bangsa ini,  sehingga tindakan  mereka tidak menggambarkan pengamalan agamanya.    Artinya anak bangsa ini telah banyak  keluar dari fitrahnya.   Benarlah jika Allah mengatakan “Kebanyakan mereka tidak mengetahui fitrahnya”  sebagaimana termaktub pada ayat di atas.

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Di sinilah sekarang pentingnya pendidikan agama sejak usia dini.  Rasul bersabda bahwa

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَىَ الْفِطْرَةِ  حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, hingga lisannya dapat mengungkapkan kehendak dirinya, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau orang Majusi” (HR Al Aswad Ibnu Surai).3

Maka tugas mutlak orang tua adalah mengarahkan putra putrinya ke jalur akhlak yang benar sesuai dengan perintah agama.   Di sinilah diperlukan keteladanan.   Setiap orang tua harus menyadari bahwa dirinya  harus menjadi teladan bagi anak-anaknya, karena merekalah sebenarnya agen utama dalam membentuk kepribadian putra putrinya.   Keteladanan itu bukan merupakan tindakan sesaat  tetapi keteladanan itu merupakan tindakan yang telah menjadi kebiasaan.   Suatu kebaikan apabila telah menjadi kebiasaan akan membentuk tabiat.   Tabiat bila telah memasyarakat  menjadi budaya.     Demikian juga  para guru atau peserta didik di sekolah mind set  mereka harus dirubah, bahwa sekolah itu bukan  tempat transfer ilmu belaka seperti kebanyakan yang terjadi sekarang, tetapi sekolah adalah tempat transfer moral positip sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya.     Perlu kita ketahui bahwa berdasar penelitian ternyata transfer pengetahuan  yang paling efektif melalui visual (84%)4, bukan melalui  baca tulis atau yang lain.   Itulah sebab mengapa keteladanan itu sangat dibutuhkan.   Jadi yang penting dalam pelajaran agama  adalah pengamalannya bukan pada nilai rapot  hasil ujian semata. 

Bila orang tua telah memberi contoh sholat maka anak akan meniru, bila orang tua menunjukkan sikap dermawan maka anak akan meniru, bahkan anak akan menangkap semua tipe gaya hidup orang tuanya.   Gaya hidup yang religiskah atau  materialiskah yang tampak, seharusnya senantiasa orangtua menampilkan gaya hidup yang religis.    Ketegasan tanpa diikuti keteladanan tidak akan membuahkan hasil apa-apa.   Jangan harap anak akan rajin melaksanakan sholat bila orang tuanya malas melaksanakan sholat.  Inilah  gambaran betapa pentingnya peran orang tua dalam membentuk kepribadian putra-putrinya, karena cikal bakal baik dan rusaknya character   bangsa ini berawal dari sini.


Penutup

Berkat kemajuan teknologi, dunia ibarat  kampung kecil saja.  Manusia sekarang sangat mudah menjangkau ke belahan bumi mana ia hendak pergi,  ke belahan mana  hendak melihat budaya masyarakat,  bahkan mudah sekali anak-anak kita melihat adegan pornografis maupun  tindakan-tindakan yang tidak berdasar pada tuntunan moral yang benar.   Padahal apapun yang masuk dalam brain atau pikiran generasi sekarang seharusnya disaring  melalui saringan agama terlebih dahulu.     Kini harus kita sadari bahwa kemajuan tehnologi  menuntut  semakin diperlukannya pendidikan agama  lebih keras,  sebab tanpa diimbangi tindakan demikian maind set /  pola pikir putra-putri kita akan didominasi oleh sifat hawaniyahnya.      

Demikian menelaah sebab terjadinya krisis moral yang terjadi dewasa ini.  Wallahu ‘alumu bishawab

Semoga khutbah singkat ini bermanfaat pada diri saya dan jamaah sekalian.  Amiin.

بَارَكَ اللهُ لِئ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْ اَنِ الْعَظِمَ
وَنَفَعَنِئ وَ أِيَكُم بِا لاَيَاتِ وَالْذِّكْرِ الْحَكِيْمَ
وَ قُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ اَنْتَ خَيْرٌ الَّراحِمِيْنَ


PUSTAKA

AL Qur’an Karim
1  Ibn Qoyim Al-Juziah._____.Raudhatul   MuhibbiinWanuzhatul
                         Musytaaqiin Diterjemah: Zubaidi,B,A,I.  2006. Taman Jatuh
                         Cinta dan  Rekreasi Orang-Orang Dimabuk  Rindu. Irsyad 
                         Baitus Salam. Bandung.  Hal.  912.
             2 Imam Suyuti. _______. Al Jaamingush Shogir.  Maktab
            Dar Ihya AlKitab Arabiyah.  Juz 2.   Indonesia.  Hal. 185
          3  Imam Suyuti, 911 H. Al Jaami’ush Shogiir.    Maktab Dar
                          Ihyaa Al      Kitab ‘Arabyyah.  Indonesia.  Juz 2.   Hal. 94.
4 Sanusi, Anwar. 2006. Jalan Kebahagiaan. Gema  Insani.
                   Jakarta. Hal.22
________________________________________ 
* *)  Penulis telah menyampaikan naskah ini dalam Khutbah Jum’at tgl.
       2 Mei 2014 pada salah satu masjid di Bandarlampung.
»»  LANJUT...

Senin, 20 Januari 2014

MUHASABAH

 by
Budi Wibowo

بسم الله الرّمان الرّحيم

Arti Muhasabah
Kita sering mendengar istilah muhasabah, dalam bahasa Arab ditulis dengan مُحَاسَبَةَ    (muhaasabatan) yang berarti perhitungan, merupakan bentuk masdar dari wazan ( حاسب)  يُحَاسِبُ)) (مُحَاسَبَةَ ).  Makna yang popular adalah mengevaluasi diri atau interospeksi.
  
Tujuan Muhasabah
Tujuan muhasabah adalah untuk perbaikan diri agar keburukan di masa lalu tidak terulang kembali pada masa mendatang.    Allah SWT telah memerintahkan kegiatan demikian  sebagaimana  tersirat dalam QS Surat Al Hasyr [59]:18;

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah SWT,  hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (QS Al Hasyr [59]:18 )


Kisah Muhasabah

  1. Sesungguhnya Nabi Daud AS sering menyamar menanyakan pendapat mereka tentang perilaku dirinya.   Datanglah malaikat Jibril  AS. dalam bentuk seorang manusia.  Maka Nabi Daud AS bertanya padanya: “Wahai pemuda, apa komentarmu tentang nabi Daud ?” Dia berkata :”Daud adalah manusia yang paling baik, hanya saja dia mempunyai satu kelemahan. “Beliau bertanya “Apa itu?” Dia berkata:” Dia makan dari kas negara.”  Nabi Daud kemudian segera kembali ke mihrabnya menangis dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, dia berkata :”Wahai Tuhanku, beritahukanlah kepadaku suatu pekerjaan yang dapat  kulakukan dengan tanganku, selanjutnya dapat menjadikanku terlepas dari kas negara.”  Maka Allah SWT memberitahu kepadanya untuk memproduksi baju besi.  

وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ

“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk memelihara kamu dalam peperanganmu (QS Al Anbiya [21]:80)

Begitulah Nabi Daud AS setiap kali  selesai mengurusi urusan rakyat /pemerintahan, beliau membuat baju besi kemudian dijualnya untuk menghidupi diri dan keluarganya.1

  1. Nabi SAW pernah mengumpulkan para sahabat lalu menyatakan bahwa siapa yang pernah disakitinya maka pada hari itu dia siap menerima balasan dari mereka yang pernah disakitinya itu.2

  1. Umar bin Khotob RA.  Sering bertanya kepada para sahabatnya tentang kelamahan atau kekurangan dirinya.  Umar berdo’a : “Mudah-mudahan Allah SWT memberi rahmat pada orang yang mau menunjukkan kepadaku mengenai kelemahan-kelemahanku”.3

Pembahasan
Dari keterangan dan kisah yang telah dipaparkan tersebut di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa

1.      Allah SWT memerintahkan agar setiap diri selalu sibuk metani (mencari-cari) kelemahan atau kekurangan diri masing-masing, bukannya sibuk mencari-cari kekurangan orang lain.

2.     Kita kadang sulit menemukan kelemahan yang melekat pada diri kita, tetapi dengan bertanya kepada orang lain tentang kelemahan diri kita merupakan tindakan yang mulia.

3.      Kritikan atau ungkapan mengenai kelemahan kita dari orang lain sebenarnya merupakan sebuah rahmat Allah SWT pada kita, oleh karena itu keadaan ini   harus kita terima dengan senang dan penuh kesabaran.  Allah SWT selalu bersama orang yang sabar dan adanya kritik akan memperbaiki kita.  Rasul bersabda;

اِذَا أَرَدَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْراً فَقَّهَهُ فىِ الدِّيْنِ وَ زَهَّدَهُ فِى الدُّنْيَا وَ بَصَّرَهُ بِعُيُوبِ

Jika Allah SWT menghendaki kebaikan bagi seorang hamba-Nya, maka Dia akan memberi kepandaian dalam agama, menjandikan zuhud di dunia dan memperlihatkan aib (cacat) dirinya. (HR.Abu Na’im) 4.

Faqih = Pandai menangkap dan mengaplikasikan perintah agama;  Zuhud =  Sikap hidup yang tidak ngeboti  (memberati) materi keduniaan, tidak mengharamkan dan menyia-nyiakan yang halal, selalu berorientasi mancari pahala dan menjauhi maksiat.

Kesimpulan
Mudah menerima kritik tentang kelemahan diri menunjukkan tingginya derajat keimanan seseorang, sebaliknya orang yang mudah tersinggung atau tidak mau merima kritik dari orang lain menunjukkan rendahnya keimanan seseorang.   Wallahu ‘alamu bishawabi.

بَارَكَ اللهُ لِئ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْ اَنِ الْعَظِمَ
وَنَفَعَنِئ وَ أِيَكُم بِا لاَيَاتِ وَالْذِّكْرِ الْحَكِيْمَ
وَ قُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ اَنْتَ خَيْرٌ الَّراحِمِيْنَ

Pustaka
Al Qur’an Karim
1  Nashr Al Faqih.  1995.  Tanbihul Ghofilin.  Diterjemah
            oleh Achmad Sunarto.  Balai Buku.  Surabaya.
            Juz II. Hal 245 -250
2    Usman bin Hasan bin Syakir Al Khaubawi.  1987.  Duratun-
             nashihin.  Penerjemah : Abu H.F  Ramadlan.  Mahkota.
             Surabaya.  Hal. 216-218.
3   Al Gozali, Muhammad Abu Hamid.____. Mukasafatu
              Al-Qulub.  Al Haramain Indonesia. Hal 249.
4    Imam Suyuti. _______. Al Jaami’ush Shogir. Juz I.    Maktab
              Dar  Ihya Alkitab  Arabiyah. Indonesia. Hal. 17.
_________
* Telah disampaikan penulis dalam khutbah Jum’at menyambut   tahun baru 2014 M, di salah satu Masjid di Bandarlampung .

»»  LANJUT...