Terima Kasih Anda Telah Mengunjungi Blog Ini

Blog ini bukan untuk tujuan komersial, bila ada gadget tambahan yang bersifat komersial itu bukan kehendak pemilik blog !

Rabu, 11 Juni 2014

Persaksian yang Terlupakan

by
Budi Wibowo

بسم الله الرّحمان الرّحي

Khusu’ dalam sholat itu bukan sekedar merasa Tuhan  mengetahui hamba-Nya dalam sholat saja, tetapi khusu’ itu juga tergambar dari sikap seseorang dalam mengejawantahkan  (mengaplikasikan) pesan-pesan yang terkandung  dalam sholat  di tengah masyarakat.
 
***
Kadang keberanian seseorang dalam bertindak dapat kita lihat dari  latar belakang yang bersangkutan.   Ada orang dengan sebab kedudukan yang diperolehnya di masyarakat  merasa unggul di hadapan sesamanya.  Ada  yang merasa unggul dengan sebab  prestasi akademisnya,  ada yang merasa unggul dengan sebab kekayaan yang dikuasainya,   ada yang merasa unggul dengan sebab profesi (keahlian) yang bersesuaian dengan obyek yang dibicarakan dan sebagainya dan sabagainya.  Semuanya menghasilkan kebanggaan,
Bunga Anggrek (Dendrobium)
kebencian dan kearifan pada pemiliknya.   Meskipun stateman ini terlalu seronoh, memang begitulah adanya apa yang terjadi di balik tindakan seseorang.  Kejadian ini dapat kita lihat dan rasakan ketika kita membuka jejaring sosial.  Lantas apakah mereka itu salah ? 

Sampai pada batas kewajaran tidak ada yang memvonis mereka bersalah, namun ketika telah melampau batas  kewajaran  tidak ada yang menilai hal tersebut sebagai suatu yang benar.  Lantas dimanakah batas kewajaran itu ?   Meskipun vonis itu datangnya dari  masyarakat, utamanya hanya kita sendirilah yang mengetahui  batas tersebut, kita dapat  merasakan ketika keakuan yang kita rasakan telah melampaui keakuan Sang Aku. 

Tergelincirnya manusia ke dalam lembah ketidakwajaran itu  karena adanya perasaan super sebab faktor latar belakang yang dimiliki sebagaimana tersebut di atas, sehingga   rasa “dumeh” (Jw = mentang-mentang) mendominasi pemiliknya.   Rasa dumeh ini biasanya berlanjut dengan sikap tidak menghargai terhadap sesama.   Tuhan berfirman;

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى

Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia  benar-benar  malampaui batas, karena dirinya merasa serba cukup.  Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu). (QS Al ‘Alaq [96]:6-8).

Firman tersebut menggambarkan, betapa Allah SWT tidak menyukai  hamba-Nya yang melampaui batas atau keluar dari kewajaran.  Ketika seorang hamba telah mencapai derajat ma’rifat (pengenalan terhadap tuhan) yang tinggi, mereka dapat merasakan bahwa firman tersebut sebenarnya merupakan pernyataan Tuhan yang sangat keras.    Dari sini dapat kita rasakan bahwa  kecerdikan seorang hamba itu tergambar dari kepandaian hamba dalam menangkap makna di balik pernyataan Tuhannya dan kemampuan merefleksikan firman-firman-Nya di tengah masyarakat. 

Maka menjadi aneh ketika seseorang dengan kedudukannya, prestasi akademisnya,  hartanya dan profesinya merasa  jumawa, unggul, bangga,  dengan apa yang dimilikinya.  Dengan itu mereka merendahkan orang lain.  Dapat kita pastikan mereka yang memiliki sikap demikian  adalah orang-orang yang melupakan persaksian  (tasyahud) yang selalu diucapkan ketika menghadap Sang Aku dalam sholatnya.     Para sufi menyatakan bahwa sikap demikian itu menggambarkan betapa kerdilnya mereka.  Mereka termasuk orang-orang yang mendustakan agamanya, sebab lalai dalam sholatnya. 

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka kecelakaan bagi mereka yang melaksanakan sholat, yakni mereka yang lalai dalam sholatnya (QS Al Ma’un [107 ]:4-5).

Persaksian yang terlupkan itu berbunyi sbb;

اَلتَّحِيَّاتُ المُبَرَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِبَاتُ لِللَّهِ

Segala kehormatan, keberkahan, shalat (do’a dan pujian ) dan kebaikan itu milik (untuk) Allah. (HR Muslim dari Ibnu Abbas RA)1.

Sikap merendahkan terhadap orang lain yang timbul itulah penyulut terjadinya kerusakan di muka bumi ini.  Kini kita menyadari bahwa  khusu’ dalam sholat itu bukan sekedar merasa Tuhan  mengetahui hamba-Nya dalam sholat saja, tetapi khusu’ itu juga tergambar dari sikap seseorang dalam mengejawantahkan  (mengaplikasikan) pesan-pesan yang terkandung di dalam sholat  di tengah masyarakat.    Barangkali itulah sebab  Allah SWT dhawuh (berfirman)
إنَّ الصَّلَّةَ تَنْهَى عَنِى الفَحْشَءِ وَالمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS. Ankabut:[29]: 45)
Demikian tulisan pendek ini semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian.  Amiin.

وصلّ الله على سيّدنامحمّدٍ وعلى آله و صحبه وسلّم
  Wallahu ‘alamii bishawab.    

Pustaka

Al Qur’an Karim
1  Nawawi, Imam. 1419 H.   Al Adzkar.   Pustaka Al ’Alawiyah.
           Semarang. Hal. 90.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar