Terima Kasih Anda Telah Mengunjungi Blog Ini

Blog ini bukan untuk tujuan komersial, bila ada gadget tambahan yang bersifat komersial itu bukan kehendak pemilik blog !

Rabu, 19 Juni 2019

Kita adalah Masa Lalu Kita

 

by
Budi Wibowo

بسم الله الرّحمام الرّحيم

Bukalah catatan hidupmu niscaya akan tersingkap siapa sebenarnya dirimu.  Maka tidak salah jika dikatakan kita adalah masa lalu kita.  Tapi kebanyakan manusia lalai siapa mereka sebenarnya, sehingga mereka tidak peduli dengan penjagaan nama baik diri mereka.

***
Kita adalah nama beserta atribut yang melekat pada diri kita.  Bila Anda menyebut  Si Fulan maka yang  terlintas dalam benak Anda adalah Si Fulan beserta atribut yang melekat padanya.  Fulan si tukang  bagunan,  yang jujur, yang baik pekerjaannya, yang dermawan, dan sebagainya  kesemuanya itu merupakan atribut yang tidak dapat ditangkap  oleh indera secara langsung, adapun ujud atau penampilan berkulit putih, yang bermata indah, tinggi yang ideal,  memiliki rumah di Jakarta dan sebagainya adalah atribut yang dapat ditangkap oleh indera secara langsung.  Jadi atribut itu ada yang bersifat fisik dan ada pula yang non fisik.

Siapa sebenarnya diri kita?  Dalam pengadilan akhirat nanti seluruh  anggota badan kita akan menjadi saksi atas perbuatan yang telah kita lakukan,  dalam Surat Yasin disebutkan bahwa seluruh anggota badan itu terwakili oleh  tangan dan kaki kita.  

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka , tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi  kesaksian terhadap apa yang mereka  kerjakan (QS. Yasin (36):65).

Bila seluruh anggota badan kita kelak akan menjadi saksi atas diri kita maka menjadi jelas bahwa diri kita pada hakekatnya adalah yang mengelola dan memanfaatkan seluruh anggota badan kita.  Bila demikian jasad adalah instrument yang disiapkan oleh Allah SWt agar kita memanfaatkan sebaik-baiknya.

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Ingat-lah ketika Robbmu berfirman kepada –Malaikat:”Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. maka apabila telah kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya. (QS Ashaad (38):71-72).

Dari ayat tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita sebenarnya adalah substansi yang bersifat ghoib (roh) yang ditiupkan (diciptakan) Allah SWt, maka performa badan hanyalah atribut yang menujukkan identitas kita belaka.  Kita mendapat beban mengurus jasad kita, di samping itu juga mengurus bagaimna agar baiknya lingkungan kita. 

Secara bersamaan Allah SWt juga menjadi pengelola jasad kita.  Kita tidak dapat  mengendalikan  denyut jantung, rithme nafas,  seluruh reaksi metabolisma yang terjadi dalam tubuh, dlsb.   Feomena ini dapat kita rasakan saat kita tertidur.   Inilah sebagian peran Allah SWt. Pada jasad manusia.  

Maka menjadi jelas bahwa dalam diri manusia terjadi sinergitas antara Tuhan dan manusia dalam mengelola sisi materiil manusia.  Ucapan yang telah populer di kalangan kaum sufi, sbb:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

Siapa yang mengenal dirinya, niscaya telah  mengenal Tuhannya.”
Allah SWt. berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ

Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang aku, maka (jawablah) Aku dekat.”(QS Al Baqarah (2):186).

***
Persaksian itu memerlukan bukti dari apa yang telah disaksikan.  Bukti itu suatu yang telah disaksikan di masa lalu,  yakni tadi, kemarin, seminggu yang lalu atau beberapa tahun yang lalu, singkatnya saat kita masih hidup di dunia.   Bila kita mau merenung tentang siapa diri kita?  Cukuplah dengan melihat apa yang telah kita torehkan di masa lampau. Allah SWt. Mengajari kita tentang hal ini melalui firman berikut:
وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًااقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

“Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka.  “Bacalah kitabmu , cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” (QS. Al-Isra’ (17) : 13-14).

Torehan itu akan indah dikenang jika kita selalu mengukir perjalanan hidup ini sesuai dengan tuntunan-Nya yakni apapun yang kita jalani penuh rasa riang dan syukur, Allah SWt memberi khabar tentang hamba yang demikian;

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman) dan mengingat nama Tuhannya, lalu mendirikan shalat.”(QS AL-A’la (87):14-15).

Sebaliknya torehan itu terkenang sebagai catatan buruk jika perjalanan hidup yang kita jalani penuh rasa ingkar dan sumpah serapah.   Pengingkaran dan sumpah serapah ini bisa terjadi secara lahir maupun secara bathin (yang tidak terungkap melalui lesan dan amal).   Allah SWt.  menyatakan bahwa kebanyakan manusia telah mengukir catatan hidupnya dengan catatan demikian.

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Sedangkan kamu (orang-orang yang ingkar) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan ahirat itu lebih baik dan kekal.”(QS A-A’la (87):16-17).

***

Oleh karena itu untuk mengetahui identitas diri ini tidak harus menunggu pengadilan akhirat kelak.  Bukalah catatan hidupmu  niscaya akan tersingkap siapa sebenarnya dirimu.  Maka tidak salah jika dikatakan kita adalah masa lalu kita. Tapi kebanyakan manusia lalai siapa mereka sebenarnya, sehingga mereka tidak peduli dengan penjagaan nama baik diri mereka. 

Wallahu ‘alamu bishawab.

و صلّ الله على سيّدنا محمّد وعلى آله وصحبه وسلّ

اَللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا فُتُحَ الْعَارِيْفِيْنَ بِحِكْمَاتِكَ
بَارَكَ اللهُ لِئ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْ اَنِ الْعَظِمَ
وَنَفَعَنِئ وَ أِيَكُم بِا لاَيَاتِ وَالْذِّكْرِ الْحَكِيْمَ
وَ قُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ اَنْتَ خَيْرٌ الَّراحِمِيْنَ


Bdl,   Juni 2019
Al faqir
BW

1 komentar: