Terima Kasih Anda Telah Mengunjungi Blog Ini

Blog ini bukan untuk tujuan komersial, bila ada gadget tambahan yang bersifat komersial itu bukan kehendak pemilik blog !

Kamis, 29 November 2018

Ahli Syurga

Ahli Syurga
by
Budi Wibowo

بسم الله الرّحمام الرّحيم
Ahli syurga bukanlah mereka yang berpenampilan seperti ulama dengan jubah yang panjang dan surban yang selalu melingkar di kepala,  tetapi dia adalah orang yang shabar dan mendirikan sholat.  Sebab di dalam keshabaran  bersemayam kecerdasan, dalam kecerdasan  bersemayan  keyakinan pada Allah dan hari akhir.   Maka ahli syurga  pasti gigih mendirikan sholat sebab kegigihan itu sepadan dengan kegigihan dalam  membangun kearifan sosial di sekitarnya, bila tidak pasti  ada yang salah dalam sholatnya.

oOo

Allah menciptakan manusia memiliki daya cipta dan karsa.  Inilah kelebihan manusian dibanding makhluk lain.  Tuhan bukan sekedar memberi kemampuan tersebut secara cuma-cuma, tetapi manusia dituntut pertanggung-jawaban atas pemberian itu (QS At Takatsur [102]: 8]

Konskwensi logis dari kententuan tersebut diciptakanlah syurga dan neraka.  Syurga sebagai bentuk hadiah atas kepatuhan manusia dalam menuruti perintah-Nya dan neraka sebagai bentuk hukuman pada manusia yang mengingkari perintah-Nya. 

Tidak mudah meraih syurga, banyak persyaratan yang harus ditempuh oleh manusia.  Namun ada beberapa indikasi yang dapat dilihat pada  diri calon ahli syurga yang tersirat dalam Al Qur’an, yakni bagaimana manusia itu percaya pada Allah SWt dan percaya hari akhir, kemudian bagaimana manusia itu mendirikan sholat dan beramal sholeh.

Dua hal tersebut  merupakan komponen dari rukun iman yang bersifat transenden dan rukun islam yang bersifat imanen,  adalah dalam  segi keyakinan dan bagaimana mewujudkan keyakinan itu dalam kehidupan nyata.

1        Percaya pada Allah SWt dan  hari akhir.

Orang yang mengimani (percaya) adanya Allah SWt dan hari akhir (kehidupan sesudah mati) dapat menunjukkan 2 (dua) indikasi, yakni kuatnya pikiran dalam mengendalikan hawa nafsu atau shabar dan  kecerdasan seseorang.

  1. Kuatnya pikiran dalam mengendalikan hawa nafsu atau shabar. 
Banyak di antara orang yang mengatakan  percaya dengan keesaan Allah dan adanya hari akhir,  tetapi sebenarnya mereka meragukan keesaan dan hari akhir tersebut.   Terbukti dengan banyaknya pelanggaran atau kemaksiatan  atau pengingkaran yang dilakukan mereka.  Allah SWt berfirman;

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Dan di antara manusia ada yang berkata , “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir”, padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang yang beriman”. (QS Al Baqarah [2]:8).

Indikasi demikian itu ditunjukkan dengan ketidak-mampuan  seseorang dalam mengendalikan hawa nafsu  dengan pikiran sehatnya, mudah sekali tersulut kemarahannya,  mudah sekali melontarkan kata-kata kotor, gampang melemparkan tuduhan yang belum tentu kebenarannya dan pandai berargumen memutarbalikkan fakta.  Di antara mereka ada orang yang membaca  kitab (ngaji) tetapi tidak sampai menembus sanubari.  Rasul mengatakan “ Mereka memahami Alqur’an hanya sebatas tenggorokan belaka”.  

يَخْرُج ُناَسُ مِنْ قِبَلِ المَشْرِقِ  وَ  يَقْرَءُونَ القُرْآ نَ  لا يُجَاوِزُ  تَرَاقِيَهُمْ ,
يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِن َالرَّمِيَّةِ,
ثمّ لا يَعُدُونُ  فِيهِ حَثَّي يَعُودَ السَّهْمُ اِلَي فُوقِهِ

“ Akan keluar manusia dari arah timur dan membaca Al Qur’an namun tidak keluar melewati kerongkongan mereka.  Mereka melesat keluar dari agama sebagaimana halnya anak panah yang melesat dari busurnya.  Mereka tidak akan kembali kepadanya hingga anak panah kembali ke busurnya”. (HR. Bukhari).1

Khabar Rasul  yang lain menyebutkan,“Barang siapa beriman pada Allah dan hari akhir hendaklah dia selalu berkata baik atau diam.(HR Bukhari-Muslim. Ahmad, Nasai, ibn Majah) 2

مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَ اليَومِ الاخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً اَوْ لِيَسْكُتْ

Rasul juga mengabarkan ; “Muslim (yang sempurna) itu adalah orang yang yang membuat para muslim lainnya selamat dari lesan dan tangannya” (HR Bukhari)3

المُسْلِمُ  مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ

Jadi demikianlah bahwa kuatnya seseorang dalam mengandalikan hawa nafsu atau shabar menggambarkan kuatnya keyakinan  seseorang akan adanya Tuhan dan hari akhir.

  1. Kecerdasan seseorang.
Rasul bersabda, bahwa orang yang cerdas itu adalah orang yang selalu mempersiapkan diri untuk menyambut hari akhir (kematian).  Perhatikan hadist berikut;

يارَسُولَ الله أيُ المُؤ مِنِيْنَ أفْضَلُ؟ قَالَ أخْسَنُهُمْ خُلُقاً : قَالَ فأيُ المُؤمِنِينَ أكْيَسُ ؟ قَالَ
أكثَرُهُمْ للِمَؤتِ ذِكراً و أخْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اِسْتِعْدَاداً أؤلَئِكَ الأ كْيَسُ

Ya Rasulallah mukmin manakah yang paling baik, Rasul berkata : “Yang paling baik akhlaknya”.  “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas ?” Rasul Bersabda ;” Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR Ibnu Majah ).

Jadi, kecerdasan seseorang bukan tergambarkan  seberapa banyak harta, jabatan serta gelar akademisnya, tetapi kecerdasan itu tergambar dari betapa pandainya seseorang mengaplikasikan perintah dan larangan Tuhannya.  Semua ini menggambarkan kuatnya seseorang dalam mengimani keberadaan Tuhan dan adanya pertanggung jawaban di hari akhir.

2        Mendirikan sholat dan beramal sholeh.

Indikasi kepatuhan seseorang dengan Tuhannya terlihat dalam pelaksanaan ibadah sholatnya
بَيْنَ الْرَّجُلِ وَالكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
Jarak antara seseorang dengan kekafiran ialah meninggalkan sholat”. (HR Muslim).5

Sholat merupakan mi’raj seorang hamba pada Tuhannya.  Ketika seseorang telah melakukan sholat sebenarnya dia telah berada dalam posisi paling dekat dengan Tuhannya.  Maka menjadi aneh jika seseorang telah melakukan sholat tetapi dalam berinteraksi dengan lingkungan tidak menggambarkan kedekatan dengan Tuhannya.   Artinya sholat seseorang tidak berdampak baik terhadap lingkungannya.  Allah Swt mengkategorikan orang demikian itu adalah orang yang lalai dalam sholatnya.

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka celakalah orang yang shalat, yaitu orang yang lalai dalam shalatnya.” (QS Al-Ma’un [107]:4-5)

Bila interaksi dengan masyarakat telah menjadikan keras dan kakunya seseorang dalam menjalin hubungan dengan sesamanya, jelas ada yang salah dalam sholatnya.  Maka dari itu Rasul mengabarkan bahwa yang pertama dihisab (diperiksa) oleh Tuhan di saat menghadapNya adalah sholatnya. 

أوَلُ مَا يُحَاسَبُ يِهِ الْعَبْدُ يَوٍمَ ألْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ الصَّلَاتُهُ فَإنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَاءِرَ عَمَلِهِ    
وإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَاءِرَ عَمَلِهِ    

Pertama-tama perbuatan manusia yang akan dihisab pada hari qiyamat adalah shalatnya.  Jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalnya dan jika rusak buruklah semua amalnya”(HR Thobroni)6
إنَّ الصَّلَّةَ تَنْهَى عَنِى الفَحْشَءِ وَالمُنْكَرِ

 “Sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar”. (QS. Ankabut:[29]: 45)

Selain mendampak positip terhadap lingkungan, sholat juga menggambarkan kedisiplinan dan kepatuhan melaksanakan perintah-Nya. 

Dari uraian itu semua tergambar bahwa bagaimana seseorang  dengan pelaksanaan sholatnya  membawa keberuntungan pada dirinya.
  
Demikian uraian menelisik indikasi ahli syurga di dunia ini. 
Semoga bermanfaat.

oOo
Kata Bijak
Ahli syurga  bukanlah mereka yang berpenampilan seperti ulama dengan jubah yang panjang dan surban yang selalu melingkar di kepala,  tetapi dia adalah orang yang shabar dan mendirikan sholat.  Sebab di dalam keshabaran  bersemayam kecerdasan, dalam kecerdasan  bersemayan  keyakinan pada Allah dan hari akhir.   Maka ahli syurga  pasti gigih mendirikan sholat sebab kegigihan itu sepadan dengan kegigihan dalam membangun kearifan sosial  di sekitarnya, bila tidak pasti ada yang salah dalam sholatnya.
Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri dan mengingat  nama Tuhannya, lalu dia mendirikan sholat. (QS Al A’la [87]:14-15).

Wallahu ‘alamu bishawabi.
و صلّ الله على سيّدنا محمّد وعلى آله وصحبه وسلّم
بَارَكَ اللهُ لِئ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْ اَنِ الْعَظِمَ
وَنَفَعَنِئ وَ أِيَكُم بِا لاَيَاتِ وَالْذِّكْرِ الْحَكِيْمَ
وَ قُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ اَنْتَ خَيْرٌ الَّراحِمِيْن

________________
1NU On line 28 Juli 2016, www.nu.or.id
                   2Imam Suyuti. _______. Al Jaami’ush Shogir.  Maktab
            Dar Ihya AlKitab Arabiyah.  Juz 2.   Indonesia.  Hal. 179
                3 Imam Suyuti. _______. Al Jaami’ush Shogir.  Maktab
            Dar Ihya AlKitab Arabiyah.  Juz 2.   Indonesia.  Hal. 186.
5Al Jazari. Abu Bakar Jabir. 2006. Minhajul Muslimin. Daril Bayani Lingulumil Quraani.
      Bairut Libanon. Hal. 1
66.
             6 Imam Suyuti. _______. Al Jaami’ush Shogir.  Maktab
            Dar Ihya AlKitab Arabiyah.  Juz 1.   Indonesia.  Hal. 112.

Bdl, 30 NOp '18
 BW

Tidak ada komentar:

Posting Komentar