Terima Kasih Anda Telah Mengunjungi Blog Ini

Blog ini bukan untuk tujuan komersial, bila ada gadget tambahan yang bersifat komersial itu bukan kehendak pemilik blog !

Sabtu, 12 November 2011

Mengambil Hati Sang Maha Pengasih (Tiga Pilar Utama Meraih Kecintaan Allah SWT)



by
Budi Wibowo

بسم الله الرحّمان الرّحيم

Nabi Ibrahim As, pernah ditanya .” Wahai Ibrahim, apa sebab Allah menjadikanmu sebagai kekasih?” Dia menjawab: “Karena 3 (tiga) hal”;



Mengutamakan Perintah Allah

Jawaban pertama adalah;

إخْتَرَْتُ أمْرَاللهِ عَلَى اَمْرِ غَيْرِهِ

Saya suka memilih perintah Allah di atas perintah selain Allah.”

Ini menunjukkan bahwa Ibrahim benar-benar telah menempatkan Allah pada posisi yang paling tinggi atau yang paling mulia.     Maka dari itu ketika sholat Nabi SAW. mencontohkan do’a dalam sujud sbb:

subhana robiyaa ‘alaa” Maha suci Tuhan yang maha tinggi.

Kita dapat membuat perbandingan bahwa ketika seorang hamba telah dipanggil atau diperintah Allah untuk menunaikan kewajiban kemudian masih mengulur-ulur pelaksanaan perintah itu, ini menunjukkan bahwa dalam hati hamba tersebut masih ada keraguan atau ada kotoran yang menutup hati mereka, sehingga mereka tidak menempatkan Allah SWT pada posisi paling mulia.     Mereka sebenarnya mengakui yang haq, namun karena nafsu telah menguasainya maka dia mengingkari kebenaran tersebut.     Ingkar dalam bahasa Al Qur’an sering disebut dengan kufur yang juga berati tertutup.     Orang demikian menunjukkan keimanannya tidak sempurna. Itulah sebab Rasul bersabda,

لا يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَى يَكُونُ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ

Masih belum sempurna iman seseorang di antara kalian sebelum keinginannya (nafsunya) mengikuti petunjuk yang kusampaikan (HR. Al Baghawi, Tabrizi, Ibn Abu ‘Ashim, Muttaqi Al-Hindiy, Ibnu Hajar dan Al Khatib).

Sebgai contoh adalah panggilan sholat , sebaiknya segera menunaikan sholat, dan bila memiliki kesempatan sebaiknya menunaikan sholat berjamaah di masjid karena Allah SWT menyukai pelaksanaan sholat demikian.

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّه
Hanyalah orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta tetap mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah ”. (Qs At Taubah [9] :18)

Dan masih banyak lagi hal-hal yang berkaitam dengan perintah Allah yang seharusnya diletakkan pada preoritas pertama.    Jadi mengutamakan perintah Allah adalah pilar pertama meraih kecintaan Allah SWT.



Tawakal atau Berserah Diri Kepada Allah

Jawaban kedua adalah

وَمَااهْتَمَمْتُ بِمَاتَكَفَّلَ الَّلهُ لىِ

Saya tidak pernah merisaukan sesuatu yang telah ditanggung oleh Allah.”

Setiap yang melata di bumi ini Allah menjamin rezekinya.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلاّ عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Dan tidak ada sesuatu binatang melata (yang benyawa) pun di bumi melainkan  Allah yang memberi rezekinya.”( QS Huud [11] : 6)

Ini menunjukkan bahwa setiap muslim harus beserah diri kepada Allah tetapi tetap dalam gerak dan langkah tanpa pernah kenal putus asa, Rasul menggambarkan sebagai tawakalnya burung, yakni terbang pagi pulang petang dengan tembolok kenyang.

لَو تَوَكَلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقًّ تَوَكُّلِهِ لرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَ تَرُوحُ بِطَاناً

Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan benar-benar tawakal, niscaya Allah akan meberikan rezeki kepadamu sebagaimana Allah telah memberi rezeki kepada burung.    Terbang pagi dengan tembolok kosong, pulang petang dengan tembolok kenyang. (HR Tarmizi).

Orang yang bertakwa memancarkan ketawakalan yang tinggi, ibarat burung seperti telah dijelaskan Rasul di atas.   Allah akan menjamin kehidupannya,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا(2)وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka" (QS Ath Thalaaq [65]: 2-3)

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan" ( kepentingan) nya. (QS Ath Thalaaq [65] :12)

Sikap tawakal ini ternyata membangkitkan energi yang kuat dalam menghadapi hidup di tengah masyarakat, sebagaimana Rasul bersabda.

مَنْ سَرَّهُ أنْ يَكُوْنَ أَقْوَى النَّاسِ فَلْيَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ

Barang siapa ingin dirinya menjadi orang yang paling kuat, hendaknya ia bertawakal kepada Allah.” (HR Thobroni, Abu Ya’la, Al Hakim dan lainnya)

Demikian keterangan dari sikap Nabi Ibrahim AS, maka sudah sepatutnya kita meneladani beliau yakni berserah diri kepada Allah terhadap segala daya upaya yang telah kita lakukan di dunia ini.    Jadi tawakal atau berserah diri kepada Allah merupakan pilar kedua untuk meraih kecintaan Allah SWT.



Suka Bederma atau Menafkahkan Sebagian Rezeki

Jawaban ketiga adalah

وَ ماَ تَعَشََّيْتُ وَماَ تَغَدََّيْتُ إلاّ مَعَ الضَيْفِ

Saya tidak suka makan sore dan makan pagi kecuali bersama tamu.”

Tujuan terakhir penciptaan manusia sebagai kholifah di muka bumi ini adalah terbentuknya kesetimbangan
atau terciptanya keadilan dengan suasana yang menyejukkan, penuh kedamaian , hidup berdampingan bersama tetangga apapun golongannya apapun warna kulitnya dan apapun kepercayaan atau agamanya.    Karena, manusia itu sebenarnya adalah satu, satu dalam ikatan akidah dan satu dalam ikatan perjanjian yang menjamin kesatuan dalam kebhinekaan, sebagaiman Allah berfirman;
ًكَانَ ألنَّاسُ أُمَّةً وَٰ حِدَة 

Manusia itu adalah umat yang satu.”( Al Baqarah [2]:213 )

Doktrin ini akan terbentuk bila setiap hamba (pengemban kekholifahan) di muka bumi memiliki semangat berbagi.     Semangat berbagi ini telah dicontohkan oleh Ibrahim AS.    Dikisahkan bahwa Ibrahim AS. bila makan mencari kawan untuk diajak makan bersama hingga 1-2 mil.     Ini sesuai dengan perintah Allah, bahwa setiap diri ini diperintahkan untuk berkorban demi tegaknya keadilan dan menaburkan kedamaian di muka bumi ini.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkorbanlah". (QS Al kautsar [108] :1- 2)


Contoh bentuk pengorbanan yang lain adalah gotong royong membangun Masjid, menyantuni anak yatim, memberi pengetahuan tanpa pamrih, membayar zakat, bersedakah, menolong sesama dlsb.    Jadi suka bederma atau menafkahkan sebagian rezeki merupakan pilar ketiga untuk meraih kecintaan Allah SWT.


***

Inilah sebenarnya 3 pilar yang dicontohkan Ibrahim AS, sehingga dia menjadi kholilullah.    Sebagai muslim kita dapat mengambil ibrah dari apa yang dilakukan Nabiullah Ibrahim AS.


بَارَكَ اللهُ لِئ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْ اَنِ الْعَظِمَ
وَنَفَعَنِئ وَ أِيَكُم بِا لاَيَاتِ وَالْذِّكْرِ الْحَكِيْمَ
وَ قُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ اَنْتَ خَيْرٌ الَّراحِمِيْنَ


DAFTAR PUSTAKA

Al Qur’an Karim
Ibn Qoyim Al-Juziah._____.Raudhatul Muhibbiin Wanuzhatul Musytaaqiin
  Diterjemah: Zubaidi, B,A,I.
         2006. Taman Jatuh Cinta dan Rekreasi Orang-Orang Dimabuk Rindu. Irsyad Baitus Salam. 
         Bandung. Hal : 912. 
Nawawi bin Umar, Muhammad.______. Nashaihul ’Ibad. Maktab Dar Ihya Arabiyah. Indonesia.Hal. 10.
Kurdi, Muhamad Amin. 2006M/1427 H. Tanwierul Qulub. Al-Haramain Jaya.Indonesia.
  Hal. 476  
____________________________________________
Telah disampaikan penulis dalam khotbah jum'at di salah satu Masjid di Bandar Lampung.   Pada tgl 11-11-2011.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar