Terima Kasih Anda Telah Mengunjungi Blog Ini

Blog ini bukan untuk tujuan komersial, bila ada gadget tambahan yang bersifat komersial itu bukan kehendak pemilik blog !

Senin, 18 Juni 2012

Hakekat Kaya dan Miskin


by
Budi Wibowo

بسم الله الرّحمان الرّحيم

Mungkin Allah SWT tersenyum sinis melihat hamba-Nya yang menguasai harta  melimpah.   Besar memang harta yang mereka sedekahkan,  sehingga mereka merasa sudah sebagai dermawan.   Padahal nilai harta yang mereka sedekahkan baru sebatas keharusan.

Mungkin Allah SWT tertawa gembira, melihat hamba-Nya yang menguasai pengetahuan tetapi sedikit harta.   Mereka merasa belum sebagai dermawan padahal harta yang mereka sedekahkan telah jauh melampaui batas keharusan.  Mereka kadang mengorbankan kebutuhannya sendiri ketika melihat orang lain lebih membutuhkan.

Jadi siapa sebenarnya pemilik kekayaan semu dan siapa pemilik kemiskinan  semu ?


***

Firman Allah SWT:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا ءَاتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ 

مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Sekirannya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.  Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan kepadamu apa yang telah kamu perselihkan. (Q.s Al-Maidah 5 : 48).


Allah berfirman dalam QS Ali Imran : 3:92:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

 "Kamu sekali-kali belum sampai kepada kebaikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan harta yang kamu cintai.  Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."

Sabda Rsaulullah:
فَاِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ وَمَالَ وَارِثِهِ مَا اَخَّرَ

"Sesungguhnya harta (yang kita miliki) sendiri(secara pribadi) adalah sesuatu yang telah disedekahkan.  Sedangkan harta milik ahli waris adalah sesuatu yang belum sempat disedekahkan" (HR. Bukhari)


Pembahasan

Ayat Al Qur’an Surat Al Maidah :45 tersebut di atas berkaitan dengan kehendak Allah atau ketetapan Allah atau sunatullah pada makhluknya bahwa Allah SWT menciptakan manusia dari Nabi Adam sampai dengan bayi yang baru lahir sekarang tidak ada yang sama.   Walaupun ada anak kembar ternyata sampai sekarang  belum ditemukan  sidik jari yang sama di antara mereka.     Itulah kebesaran Allah SWT.     

Mari kita lihat pada buah pisang, misal pisang ”Ambon”  ternyata dari jenis yang sama  buah itu berbeda-beda, ada yang kenyal, ada yang lembek,  kejadian ini menunjukkan bahwa pisang memiliki beberapa jenis atau varietas.    Demikian juga pada makhluk lain.

Dengan keberagaman itu justru Allah hendak meletakkan keadilan dan menciptakan keindahan.  

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً

Sekirannya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan satu umat (saja),

Kita dapat membayangkan seandainya manusia itu diciptakan dengan wajah sama  dan semua kaya, niscaya tidak akan tercipta keindahan di situ.     Sekarang barulah kita menyadari bahwa  Allah SWT menciptakan keberagaman (pluralitas)  itu memang untuk mewujudkan keindahan.

Sisi lain tujuan penciptaan keberagaman adalah karena Dia hendak menguji manusia agar berlomba meraih kebaikan. 
 

لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا ءَاتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.

Salah satu bentuk amal kebaikan itu adalah anjuran menjadi dermawan atau rajin bersedekah.   Ternyata setelah ditelusuri kedermawanan pada seseorang menggambarkan ketaqwaan yang bersangkutan.

هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Alqur’an itu sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa, yaitu orang yang beriman terhadap yang gaib dan menafkahkan sebagian dari rezekinya. (QS Al Baqarah [2] :2-3).

Penderma  dapat kita temukan berdasar kebiasaan mereka sehari-hari yakni mereka adalah orang-orang yang gemar bersedekah.   Ternyata sikap dermawan itu belum tentu  didapat pada orang yang memiliki banyak harta.  

Zakat merupakan  sedekah yang diwajibkan bagi seorang yang mengaku sebagai muslim.  Ketika kita ngeluarkan uang  atau harta sebesar nilai zakat  belumlah kita dikatakan sebagai dermawan,  karena sedekah uang dan harta   yang  kita lakukan itu baru sebatas kewajiban.     Dikatakan sebagai dermawan bila sedekah yang kita lakukan telah melampaui nilai yang diwajibkan.

Secara tersirat  Rasul bersabda bahwa  orang  kaya  itu belum tentu mereka yang hidupnya kaya akan harta dan orang yang miskin itu belum tentu mereka yang hidupnya miskin akan harta bila tolok ukur yang digunakan adalah kedermawanan.

فَاِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ وَمَالَ وَارِثِهِ مَا اَخَّرَ

"Sesungguhnya harta (yang kita miliki) sendiri(secara pribadi) adalah sesuatu yang telah disedekahkan.  Sedangkan harta milik ahli waris adalah sesuatu yang belum sempat disedekahkan" (HR. Bukhari)

Nyatanya kalau kita meninggal, harta yang kita tinggalkan itu dikuasai oleh para ahli waris kita.  Ini adalah harta dalam bentuk materi.    Tetapi ada harta yang tidak dalam bentuk materi yaitu keahlian dan jasa.

Banyak manusia bertanya kalau kita tidak punya harta bagaimana mungkin kita bederma.   Kalau tidak punya keahlian bagaimana mungkin dapat bederma ?  Seakan yang mampu bederma adalah orang yang hartanya banyak dan orang yang memiliki keahlian.   Inilah fenomena yang terjadi di masyarakat,  padahal  Allah sengaja menciptakan manusia itu berbeda.

Ternyata keadilan Allah itu tidak sampai batas itu.  Orang yang hanya memiliki jasa, kemudian dia menyumbangkan keahliannya  (Misal menyumbang pembangunan Masjid) dalam bentuk tenaganya, pikirannya, apabila dia berpikiran bahwa seandainya dia memiliki harta seperti si Fulan yang empunya nicaya dia akan bederma lebih banyak lagi.   Rasul mengatakan bahwa apa yang disumbangkan oleh si tidak empunya tadi nilainya sama atau bahkan lebih besar daripada si empunya.

وَعَبْدُ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً فَهُوَ صَادِقُ النِيَّتِهِ يَقُوْلُ لَوْ اَنَّ لِى مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلٍ 

فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ  فَأجْرُهُمَا سَوَاءٌ

Dan orang yang diberi pengetahuan oleh Allah SWT tetapi tidak diberi harta kekayaan, sedangkan dia senantiasa lurus niatnya, seraya berkata :”Seandainya aku mempunyai harta kekayaan, niscaya aku akan beramal sebagai amal Fulan  (Si empunya harta dan ilmu penegtahuan).”  Dengan ketulusan niatnya itu dia mendapat pahala yang sama dengan yang diterima si empunya harta. (HR Tirmidzi dan Ahmad).


Dengan demikian  dapat kita lihat dan rasakan bahwa ternyata di muka bumi ini ada orang yang kaya semu dan orang  miskin yang semu.    

Semoga kita semua adalah jamaah kaya dalam arti hakekat kaya yg sebenarnya.   Mari kita bercocok tanam tanaman yang bermanfaat sehingga hasilnya dapat kita pethik di syurga nanti.   Amiin.

.

***
Mungkin Allah SWT tersenyum sinis dengan hamba-Nya yang menguasai harta yang melimpah.   Besar memang harta yang mereka sedekahkan,  sehingga mereka merasa sudah sebagai dermawan.   Padahal nilai harta yang mereka sedekahkan baru sebatas keharusan.

Mungkin Allah SWT tertawa gembira, melihat hambanya yang menguasai pengetahuan tetapi sedikit harta.   Mereka merasa belum sebagai dermawan padahal harta yang mereka sedekahkan telah melampaui jauh dari batas keharusan.  Mereka kadang mengorbankan kebutuhannya sendiri ketika melihat orang lain lebih membutuhkan.

Jadi Siapa sebenaqrnya pemilik kekayaan semu dan siapa pemilik kemiskinan  semu ?

Wallahu ‘alamu bishawabi

1 komentar: